BERITABANGKA.COM,BANGKA SELATAN–

Suasana Pasar Toboali masih seperti hari-hari biasa,dimana para pedagang masih menjajakan dagangan dengan santai tanpa harus kewalahan melayani pembeli. Jumat (9/7/2021)

IMG 20210709 141403 scaled

Nampak pria paruh baya biasa dipanggil wandi mengatakan “Tahun dimana semenjak covid melanda nampak betul daya beli pembeli lokal terhadap dagangan agak menyurut apalagi barang yang di jual berupa barang yang dicari para emak-emak setiap hari”katanya.

“dari paling kanan sudut kios ada kentang ,gula aren,cabe,bawang merah,bawang putih, dan lainnya beresiko kalau laku agak lama pasti busuk dan merugi dan dari modal yang sudah dikeluarkan akan membuat dampak di pertanyakan istri dirumah” akuinya seraya menebar senyuman tipisnya yang khas.(9/7)

IMG 20210709 141452 scaled

Dia pun yang diketahui merupakan warga pribumi Toboali bergumam “jaman berkehidupan ditengah wabah covid-19 ini ,setiap penjual harus diakali pemikiran yang kreatif yang pasti berprinsip jangan merugikan pelanggan nya yang sudah setiap hari jadi omset untuk kios” jelasnya seraya garuk-garuk pipi yang terlihat jelas keriput ,tersirat dibalik kulitnya yang gosong terbakar matahari itu tersimpan sejuta tentang kehidupan keras pasar.

IMG 20210709 142106 scaled

“Setidaknya kita sebagai penjual yang bukan kata sebentar menjalani kehidupan dipasar Toboali ini,terhitung dari tahun 1996 sudah menggeluti jadi pedagang dipasar “candanya ke Beritabangka.com sambil menyeruput kopi hitamnya yang biasa dipesan dari warung kopi dipojokan pasar.

IMG 20210709 141549 scaled

Kendala saat musim hujan mendera,untuk barang dagang mereka sendiri kadang terpapar langsung oleh hujan “,tempias(terpapar langsung) kena air hujan langsung membuat bawang merah,bawang putih,cabe cepat busuk apabila tak ditangani secara profesional berbekal trik pedagang lokal yang sudah puluhan tahun mengais rejeki di atas aspal pasar yang sudah bukan dikatakan baik”terlihat berlobang,terlihat tak terawat” ungkapnya kesal.

IMG 20210709 141934 scaled

“Diketahui ada 3 Pasar yang dibangun Pemerintah dikecamatan Toboali tanpa Tau tepat sasaran atau tidaknya,”keluhnya.

“Sangat disayangkan apa yang sudah diprogramkan pemerintah untuk masyarakat nya tidak bisa dipergunakan atau memang kah tidak tepat sasaran penempatan atau hanya untuk fokus menghabiskan anggaran saja”bebernya.

Terpisah Saat ditanya Beritabangka.com dengan salah satu pedagang lain kenapa masih bertahan dengan keadaan kios seperti itu? Jawaban mereka sederhana karena lokasi tempat biasa mereka jualan lebih diminati masyarakat asli Toboali.

Sedangkan diketahui pemerintah sudah berupaya mempersiapkan fasilitas untuk berdagang yang lebih layak

“Masyarakat khususnya emak-emak belanjanya selaluΒ  dari jaman dulu ya kesini”ujar salihin sebagai pedagang cabe.

Adajuga beralasan kalau ditempat baru kadang kurang laris untuk berdagang.

“Ditempat baru gak laris,makanya kami apapun yang terjadi tetap bertahan disisi pasar ini”ucapnya.