Penulis : Ari Junaedi

BERITA BANGKA.COM, OPINI–

Guyonan (Lelucon) tentang anak beranak pelaku kriminal, tidak hanya cerita dalam film-film, hal itu didapat kan juga dalam cerita nyata, seakan memang biasa terjadi dalam cerita birokrasi.

Baru ini terjadi di Palembang sang bapak dan anak, Dodi Reza Alex Noerdin susul ayahnya Alex Noerdin masuk kerangkeng (Penjara VVIP bagi tahanan Korupsi).

1273887572

Sang bapak terlebih dahulu di tahan kejaksaan agung pada 5 Oktober 2021 karena laparnya nafsu, hingga pembangunan masjid dan dugaan pembelian gas bumi diselewengkan.

Tak lama kemudian, sang putra mahkota Dodi Reza ditangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena permainan fee sejumlah proyek infrastruktur.

Memang bejat tetaplah bejat jiwa perampok nya menggelora tak tanggung-tanggung, Si ayah melakukannya saat menjabat Gubernur Sumatera Selatan, sementara anaknya menggarap saat menjabat Bupati Musi Banyuasin, sebelum menjadi Gubernur si Ayah pernah menjadi Bupati Musi Banyuasin.

Kasus ini menunjukkan betapa kronisnya korupsi di Indonesia, ibarat penyakit sudah teramat kronis hingga menunggu mati, sel-sel penyakit tersebut sudah teramat parah memakan sel sehat, dengan shock Terapy operasi tangkap tangan (OTT) seolah tak mempan memberantas sel jahat ini.

Apalagi diera pandemi ini, Rasa malu seakan kebas, terlindungi oleh masker.
OTT yang dilakukan KPK Jumat (15/20/2021) di Musi Banyuasin, menguak modus korupsi konvensional selama ini dilakukan oleh kepala daerah.

Bupati Dodi Reza Alex Noerdin memerintahkan bawahannya untuk mengatur pemenang proyek. Setiap pemenang nantinya “dipalak” untuk menyerahkan comitmen fee sebesar 10 persen untuk Bupati dan 5 persen untuk bawahannya.

Keuntungan kontraktor 15 persen serta pajak 10 persen. Maka anggaran proyek tinggal 60 persen.

Bisa ditebak anggaran yang sudah “dicompang campingkan” akan berdampak pada mutu pengerjaan proyek. Warga Desa Sukarami, Kecamatan Sekayu, kabupaten Musi Banyuasin, misalnya sudah sejak lama mengeluhkan kerusakan jalan didaerahnya yang hingga sekarang tidak pernah diperbaiki (Sindonews.com, 27 Mei 2021).

Sebagai Kabupaten dengan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) terbesar kedua di Provinsi Sumatera Selatan setelah kota Palembang, seharusnya melesat menjadi daerah maju.

Dengan luas wilayah mencapai 14.265,96 kilo meter persegi, Musi Banyuasin dikaruniai tambang minyak dan gas. Sentra sentra perkebunan, pertanian, peternakan dan perikanan, juga berkembang maju di Musi Banyuasin.

Mirisnya, pembangunan yang seharusnya merupakan hak masyarakat digarong oleh kepala daerahnya sendiri. Sasaran yang Dimaling Dodi beserta gerombolannya antara lain adalah pembangunan jalan, prasarana pengolahan air bersih, dan sistem distribusi.