Semangat Sumpah Pemuda Semakin Relevan Ditengah Isu Politik Identitas

banner 468x60

JAKARTA – Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menyebut semangat Sumpah Pemuda dan pemudi pada 1928 masih sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini. Terutama, menyongsong agenda besar perpolitikan Indonesia pada 2024 mendatang.

“Inisiatif, kreativitas dan komitmen pemuda dan pemudi yang bersejarah ini, tetap relevan bahkan semakin penting di masa kini, di mana polarisasi dan perpecahan menjadi fenomena yang semakin berkembang. Saat ini, kita menyongsong Pemilu Legislatif dan Pilpres 2024,” kata Matius Ho dalam webinar bertajuk, “Sumpah Pemuda dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya: Merekat Perbedaan, Menjalin Kemanusiaan” pada Rabu (26/10/2022) malam.

Bacaan Lainnya
banner 468x60

Dia bercerita, kemajemukan Indonesia dengan lebih dari 600 bahasa daerah dapat menjadi aset sekaligus potensi polarisasi dan perpecahan yang serius. Namun, dengan kejeniusan dan kebesaran hati para pemuda dan pemudi yang di Komplek Pemuda tahun 1928, kemajemukan saat itu menjadi kekuatan besar yang dapat disatukan.

“Sementara, banyak dari para elite senior dari mereka seringkali terjebak kepada politik identitas dan kepentingan sempit. Mereka, para pemuda dan pemudi ini, dalam rapat tersebut memutuskan bahwa mereka adalah putra dan putri Indonesia yang bertanah air yang satu, berbangsa satu dan berbahasa yang satu, Indonesia,” ungkapnya.

Menurutnya, ada kepentingan bersama yang lebih penting yang harus diperjuangkan bersama-bersama. Untuk itulah, topik ini diangkat dalam webinar internasional dengan menghadirkan narasumber dari berbagai negara.

“Politik identitas, ibarat penyakit yang semakin berkembang mengisi agenda besar perpolitikan di Indonesia. Bahkan, UNESCO dalam laporan tahun lalu, mengungkap dunia tampaknya semakin terpecah dan terpolarisasi. Dengan demikian, polarisasi dan ancaman perpecahan tak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di dunia,” imbuhnya.

Webinar “Sumpah Pemuda dan Literasi Keagamaan Lintas Budaya: Merekat Perbedaan, Menjalin Kemanusiaan” menghadirkan pembicara kunci Imam Besar, Masjid Istiqlal Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A.

Menurut Nasaruddin Umar, kelebihan dan potensi pemuda dan pemudi di masa lalu dan masa kini memiliki keunggulan yang berbeda, sesuai dengan perkembangan zaman.

“Saya optimistis, manusia semakin modern, semakin bermartabat dan semakin positif. Tantangan kita adalah terjadi dinamika masyarakat yang semakin aktif akibat prestasi ekonomi yang semakin membaik, peradaban yang semakin bagus dan gizi juga semakin baik, generasi sekarang ini pemikirannya semakin cerdas. Kualitas yang seperti ini melahirkan dinamika yang semakin aktif,” ungkapnya.

Terlebih lagi, kecanggihan teknologi informasi masa kini menjadikan para pemuda dan pemudi dapat menyerap segala informasi, serta menjadikan hidup berada di tengah banyak perbedaan.

“Problema yang kita hadapi sekarang ini adalah bukan bagaimana mempersatukan Indonesia, tetapi bagaimana membiasakan diri hidup di tengah perbedaan. Jangan ada pemaksaan untuk menyatukan sesuatu yang berbeda, itu bertentangan dengan prinsip Bhineka Tunggal Ika. Mari kita biasakan hidup di tengah perbedaan,” pungkasnya.

Institut Leimena kerap menyelenggarakan diskusi internasional yang berhubungan dengan tema-tema keagamaan, lintas budaya, kemajemukan dan sebagainya.

banner 468x60