Oleh: Try
“Penjajah yang paling kejam adalah saudaramu sendiri yang menjual bangsanya demi upah dan pangkat.” — Tan Malaka
Di tengah gemuruh perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak semua musuh datang dari luar. Sebagian justru lahir dari rahim bangsa sendiri. Mereka tampil dengan wajah pribumi, berbicara dalam bahasa rakyat, namun diam-diam menjadi alat kekuasaan kolonial. Sejarah menamai mereka dengan “Belanda Hitam.”
Istilah ini bukan merujuk pada warna kulit atau ras, melainkan pada watak pengkhianatan, pada mereka yang menjadi perpanjangan tangan penjajah dengan membungkam suara rakyat dan menindas sesama demi segenggam kepentingan pribadi.
Ketika Wajah Kita Menjadi Topeng Penjajah
Di masa kolonial, banyak pribumi yang diangkat menjadi mandor, centeng, atau pejabat lokal oleh pemerintahan Belanda. Tugas mereka sederhana namun kejam dengan menekan bangsanya sendiri. Mereka menyita tanah adat, memungut pajak dengan paksa, dan menjadi mata serta telinga penjajah terhadap gerakan rakyat.
Mereka diberi seragam, pangkat, bahkan gelar kehormatan. Namun sejatinya, mereka tidak lebih dari alat “alat yang menyerang dari dalam”. Karena itulah masyarakat menyebut mereka “Belanda hitam” pengkhianat dalam balutan saudara.
Kiasan Lama, Luka yang Masih Terasa
“Belanda hitam” adalah cermin dari satu kenyataan pahit betapa mudahnya sebagian dari kita dibodohi oleh janji kekuasaan. Kiasan ini terus hidup hingga kini, bahkan mungkin lebih relevan dari sebelumnya. Hari ini, para “Belanda hitam” tak lagi membawa cambuk dan catatan pajak. Mereka hadir dalam bentuk kontrak tambang, izin perusakan hutan, penggadaian tanah adat, dan retorika nasionalisme palsu.
Mereka adalah mereka yang menukar laut dan gunung untuk investasi yang hanya menguntungkan segelintir orang. Mereka adalah wajah-wajah lokal dari penjajahan modern, yang memuluskan jalan bagi kekuatan asing dan elit ekonomi untuk menghisap kekayaan alam kita.
Kita Terlalu Cepat Percaya
Salah satu hal yang membuat “Belanda hitam” bertahan dalam berbagai bentuk adalah ingatan publik yang pendek dan kepercayaan yang terlalu mudah diberikan. Kita sering terkecoh oleh seremonial, terbuai oleh janji populis, dan buta terhadap tanda-tanda pengkhianatan.
Tanpa kesadaran kritis, sejarah akan terus berulang. Kita akan terus dikhianati oleh wajah-wajah yang kita kenal, oleh suara yang terdengar seperti suara kita sendiri.
Ilustrasi yang Menyentak: Anak Panah dari Dalam
Bayangkan perjuangan sebagai perisai yang menghadapi serangan musuh. Tapi tiba-tiba, anak panah datang dari belakang dari arah yang seharusnya aman. Itulah “Belanda hitam.” Mereka menusuk bukan karena musuh, tetapi karena keserakahan. Dan luka yang ditimbulkan lebih dalam, karena datang dari orang yang kita kira saudara.
Jangan Diam Saat Sejarah Diulang
“Mereka yang tidak belajar dari sejarah ditakdirkan untuk mengulanginya.”
— George Santayana
Kini, saat bangsa ini dihadapkan pada berbagai bentuk penjajahan baru ekonomi, budaya, bahkan ekologis kita harus lebih waspada terhadap pengkhianatan dari dalam. Jangan biarkan wajah lokal membungkus agenda asing. Jangan diam saat sumber daya kita dikorbankan demi kekayaan segelintir elite.
“Belanda hitam” akan terus ada selama kita membiarkan kebodohan dan kealpaan merajalela. Maka, tugas kita bukan sekadar melawan penjajah dari luar, tetapi mengungkap mereka yang berkhianat dari dalam. (*)








