BERITABANGKA.COM – Bagi generasi yang tumbuh di era 1980, 1990 hingga awal 2000-an, suasana kampung saat menjelang Magrib atau Subuh memiliki nuansa khas yang sulit terlupakan. Di tengah kesunyian yang mulai merayap, terdengar lantunan ayat-ayat merdu yang menggema dari pengeras suara masjid. Salah satu yang sangat akrab dan membekas di ingatan adalah bacaan Shalawat Tahrim.
Shalawat ini diciptakan oleh Syekh Mahmoud Khalil al-Hussary, seorang ulama besar dari Mesir yang juga dikenal sebagai Ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadz di Kairo. Karya beliau sudah dikenal luas di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tidak sedikit masjid atau surau yang memutarkan shalawat ini sebagai pembuka suasana sebelum adzan, terutama menjelang salat Magrib dan Subuh.
Lantunannya yang lembut dan syahdu dianggap mampu membangkitkan rindu pada suasana religius dan damai di masa lalu. Suasana saat itu terasa penuh kehangatan dan kebersamaan, ketika anak-anak berlari kecil menuju masjid, orang tua melangkah tenang membawa sajadah, dan suara shalawat seakan menjadi penanda waktu dan pengingat keheningan hati.
Lafal Shalawat Tahrim
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَاإمَامَ الْمُجَاهِدِيْنَ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ اْلهُدَى ۞ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَانَاصِرَ الْحَقِّ يَارَسُوْلَ اللهْ
الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكَ ۞ يَامَنْ اَسْرَى بِكَ مُهَيْمِنُ لَيْلًا نِلْتَ ۞ مَا نِلْتَ وَالأَنَامُ نِيَامْ
وَتَقَدَّمْتَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّ كُلُّ مَنْ فِى السَّمَاءِ وَاَنْتَ الْإِمَامْ
وَاِلَى الْمُنْتَهَى رُفِعْتَ كَرِيْمًا وَسَمِعْتَ نِدَاءً عَلَيْكَ السَّلَامْ
يَا كَرِمَ الْأَخْلَاقْ ۞ يَارَسُوْلَ اللهْ ۞ صَلىَ اللهُ عَلَيْكَ ۞ وَعَلىَ عَلِكَ وَ اَصْحَابِكَ أجْمَعِيْنَ۞
Artinya
“Salawat dan salam semoga dilimpahkan kepadamu, wahai pemimpin para pejuang, wahai Rasulullah.
Salawat dan salam semoga diberikan kepadamu wahai pembawa petunjuk, wahai sebaik-baiknya makhluk Allah.
Salawat dan salam semoga tercurah kepadamu wahai penolong kebenaran, wahai Rasulullah.
Wahai yang diperjalankan pada malam hari oleh Yang Maha Menguasai, engkau memperoleh keutamaan saat banyak manusia tertidur.
Engkau maju dalam salat sebagai imam bagi penghuni langit seluruhnya.
Engkau diangkat ke Sidratul Muntaha karena kemuliaanmu, dan engkau mendengar seruan salam atasmu.
Wahai yang mulia akhlaknya, wahai Rasulullah.
Semoga salawat selalu dilimpahkan kepadamu, juga untuk keluargamu serta seluruh sahabatmu.”
Shalawat Tahrim tidak hanya menjadi bacaan, melainkan simbol kedekatan spiritual dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam lantunannya, tergambar keagungan akhlak sang Rasul, perjalanan Isra’ Mi’raj, serta penghormatan para malaikat dan makhluk langit kepadanya.
Kini, meski zaman telah berubah dan kehidupan semakin modern, lantunan shalawat ini tetap hangat di ingatan. Banyak yang memutarnya kembali untuk mengobati rindu pada suasana kampung, suasana masjid kecil yang damai, dan kehidupan sederhana yang terasa lebih tenang.
Menghidupkan kembali Shalawat Tahrim bukan hanya tentang nostalgia, tetapi juga meneguhkan kembali cinta kepada Rasulullah. (*)








