Banjir Sumatera Aceh Tamiang Dengan Alam Menyaksikan Manusia Habisi Manusia

banner 468x60

Pasca Banjir Bandang Aceh Tamiang: Ketika Kerakusan Manusia Membunuh Manusia Lainnya

BERITABANGKA.COM – Aceh Tamiang belum sepenuhnya kering. Air memang sudah surut di beberapa titik, tetapi lumpur, kayu gelondongan, dan sisa-sisa kehidupan masih berserakan. Di antara tumpukan batang pohon dan puing-puing alam, anak-anak terlihat berdiri diam menatap masa depan yang entah ke mana.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Banjir bandang ini sering disebut sebagai “bencana alam”. Namun pertanyaannya sederhana benarkah alam semata yang patut disalahkan?

Banjir Datang, Dosa Lebih Dulu Mengalir

Hujan memang turun deras. Sungai memang meluap. Tapi banjir bandang yang menghantam Aceh Tamiang tidak lahir dari langit saja. Ia lahir dari tangan manusia sendiri dari hutan yang dilucuti, tanah yang diperkosa, dan sungai yang diperlakukan seperti saluran limbah.

Penebangan liar, alih fungsi lahan tanpa kendali, dan kerakusan berkedok pembangunan telah lama diperingatkan. Namun suara itu kalah oleh suara mesin, kepentingan, dan keuntungan sesaat.

Ketika hutan di hulu dibabat, air kehilangan penahannya. Ketika tanah kehilangan akar, longsor hanya soal waktu. Maka saat banjir datang dan menghantam kampung-kampung, sesungguhnya itu bukan tragedi tiba-tiba, melainkan pembalasan kejahatan yang ditunda.

Dalam setiap bencana, selalu ada korban yang paling lemah yakni anak-anak, perempuan, dan warga miskin. Mereka tidak pernah ikut rapat izin usaha. Tidak pernah menandatangani dokumen AMDAL. Tidak pernah menikmati hasil eksploitasi.

Namun merekalah yang pertama kehilangan rumah, sekolah, dan rasa aman.

Anak-anak yang berdiri di atas tumpukan kayu hanyut itu bukan sedang bermain. Mereka sedang belajar terlalu dini tentang ketidakadilan “bahwa keputusan orang dewasa bisa menghancurkan hidup mereka tanpa izin,”

Kerakusan yang Membunuh

Kerakusan manusia jarang membunuh dengan senjata. Ia membunuh perlahan seperti lewat banjir, lewat longsor, lewat hilangnya mata pencaharian, lewat trauma yang tak tercatat dalam laporan resmi.

Bencana seperti di Aceh Tamiang peringatan keras bahwa manusia bisa menjadi pemakan sesama paling mematikan.

Ironisnya, setelah banjir, yang paling cepat dibangun kembali sering kali bukan hutan atau daerah resapan, melainkan rencana eksploitasi baru dengan nama berbeda.

Alam Tidak Pernah Dendam

Alam tidak pendendam. Ia hanya bereaksi. Ketika keseimbangannya dirusak, ia mencari cara untuk menormalkan diri dan manusia sering berada di jalur terdekat.

Aceh Tamiang hari ini sebagai cermin retak bagi banyak daerah di Sumatera kaya sumber daya alam, tapi rapuh karena salah urus. Jika tragedi ini hanya dianggap musibah tanpa perubahan maka kita sedang menunggu korban berikutnya.

Bantuan kemanusiaan penting. Dapur umum, relawan, dan solidaritas patut diapresiasi. Namun itu semua hanya obat pereda nyeri, bukan penyembuh penyakit.

Yang dibutuhkan Aceh Tamiang adalah keberanian menghentikan perusakan, ketegasan menindak pelaku, dan kesadaran bahwa pembangunan tanpa nurani adalah bencana yang ditunda.

Jika tidak, maka banjir bandang ini hanyalah bab awal dari cerita yang lebih gelap dan parah menggerus manusia.

Dan sekali lagi, manusia akan membunuh manusia lainnya bukan dengan peluru, tetapi dengan kerakusan yang dibiarkan hidup. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60