Ketua Baru Golkar Basel: Mengapa Politik Rina Tarol Memilih Memulai dari Desa?

banner 468x60

TOBOALI — Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Golkar Bangka Selatan pada Ahad, 29 Maret 2026, menorehkan babak baru bagi konstelasi politik lokal. Bukan ketuk palu biasa, terpilihnya Rina Tarol secara aklamasi sebagai nakhoda baru DPD Partai Golkar Bangka Selatan periode 2026–2031 membawa angin segar sekaligus sinyal perombakan besar-besaran.

Rina tidak datang untuk sekadar duduk manis di kursi ketua. Begitu resmi menakhodai partai berlambang pohon beringin tersebut untuk lima tahun ke depan, ia langsung “tancap gas”.

Alih-alih merancang jurus elit di tingkat kabupaten, Rina justru memilih membalik arah kompasnya, ia memulai segalanya dari desa.

Merajut Kembali Akar Rumput yang Sempat Renggang

Bagi Rina Tarol, kekuatan sebuah partai politik tidak diukur dari megahnya kantor atau riuhnya diskusi di tingkat atas, melainkan seberapa kuat akar tersebut tertanam di tengah-tengah masyarakat. Ia sadar betul, fondasi yang rapuh di tingkat bawah hanya akan membuat partai limbung diterpa badai politik.

Oleh karena itu, penguatan struktur internal hingga ke tingkat paling bawah menjadi agenda mendesak yang tidak bisa ditawar lagi.

“Pertama memang kami membenahi struktur partai kami (partai Golkar) sampai ke desa. menjadi tugas utama kami, tanpa struktur yang solid tidak mungkin menjadi besar,” ungkap Rina dengan nada optimis usai gelaran Musda VI tersebut.

Menolak Terjebak Masa Lalu, Menatap Kejayaan Masa Depan

Kepemimpinan baru tentu membawa harapan baru. Menjawab selentingan miring bahwa roda partai beringin di Bangka Selatan sempat berjalan di tempat pada periode sebelumnya, Rina memilih sikap yang dewasa. Ia tidak ingin menghabiskan energi untuk mencari kambing hitam atas apa yang sudah berlalu.

Bagi Rina, masa depan adalah lembaran kosong yang siap diisi dengan kerja-kerja nyata untuk menguasai kembali hati masyarakat Basel.

“Tidak bicara yang kemarin, kita bicara masa depannya bisa lagi eksis, bisa lagi besar, di Bangka Selatan dan tidak menjadi partai buram di Bangka Selatan,” tegasnya.

Visi besar ini, lanjut Rina, hanya bisa dicapai jika seluruh kader bergerak dalam satu frekuensi yang sama. Tidak ada lagi ruang untuk ego sektoral atau ambisi pribadi yang kerap mencederai marwah partai.

“Artinya kami bersama jajaran hingga ke lapisan atau tingkat desa harus benar benar solid bekerja benar benar berdasarkan program kerja kepentingan masyarakat. Tidak lagi kepentingan pribadi, harus benar benar mengarah pada kepentingan masyarakat,” imbuhnya.

“Sentilan” Keras untuk Para Wakil Rakyat

Namun, bagian paling menarik dan berani dari politik Rina Tarol adalah keberaniannya melakukan otokritik terhadap tubuh partainya sendiri. Sebuah kejujuran yang jarang ditemukan dalam panggung politik saat ini.

Rina tanpa ragu melihat kinerja para kader yang duduk di kursi legislatif (fraksi). Ia menyoroti bagaimana beberapa wilayah pelosok, seperti di Daerah Pemilihan (Dapil) Tukak Sadai hingga Kepulauan Pongok, seolah terlupakan dan jarang tersentuh oleh kehadiran para wakil rakyat dari partainya.

Baginya, mustahil meminta loyalitas dan suara masyarakat jika para kader hanya datang saat musim pemilu tiba.

“Kami harus akui fraksi-fraksi partai kami hampir tidak pernah turun ke dapil Tukak Sadai, Pongok. Bagaimana mereka harus memilih kami sedangkan kami tidak pernah hadir ditempat mereka. Artinya fraksi-fraksi kami harus kerja keras, tidak lagi kerja pribadi tapi kerja organisasi,” pungkasnya menyudahi pembicaraan.

Langkah awal Rina Tarol ini menegaskan satu hal: wajah Golkar Bangka Selatan ke depan tampaknya akan lebih membumi, lebih banyak mendengar, dan lebih giat menyisir desa-desa demi merebut kembali kejayaan yang sempat meredup. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 300×250