Menanti Hilal 2026: Mengapa Pengamatan Observatorium Bosscha Kali Ini Begitu Menantang?

banner 468x60

BERITA BANGKA – Memasuki bulan Maret 2026, semarak masyarakat Indonesia dalam menyambut awal bulan Hijriah mulai terasa. Sebagai salah satu institusi astronomi tertua dan paling kredibel di Indonesia, Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali mengambil peran penting dalam mengamati pergerakan benda langit, khususnya hilal.

Namun, hasil perhitungan astronomis untuk pengamatan yang dijadwalkan pada Kamis, 19 Maret 2026, menunjukkan sebuah catatan penting: hilal berada dalam posisi yang sangat menantang untuk dilihat.

Memahami Kriteria MABIMS: Standar “Main Aman” Visibilitas Hilal

Sejak tahun 2022, Indonesia bersama negara-negara tetangga (Brunei, Malaysia, dan Singapura) yang tergabung dalam MABIMS menetapkan standar baru agar hilal bisa dinyatakan “tampak” atau imkanur rukyat.

Dua angka kunci yang menjadi syarat mutlak adalah:

* Ketinggian Hilal: Minimal 3° di atas ufuk.

* Elongasi (Jarak Sudut Bulan-Matahari): Minimal 6,4°.

Lantas, bagaimana dengan kondisi pada 19 Maret 2026 nanti? Data dari Bosscha menunjukkan bahwa posisi bulan saat ini masih berada di bawah ambang batas tersebut. Jarak sudut atau elongasi diprediksi hanya berada di kisaran 4,0° hingga 5,5°, dengan ketinggian yang relatif rendah, yakni 0° hingga 3° saja untuk wilayah Indonesia bagian Barat.

Mengapa Pengamatan Kali Ini Sangat Menantang?

Tim astronom Bosscha menjelaskan bahwa posisi bulan yang sangat dekat dengan matahari dan berada di ketinggian rendah membuat cahaya redup “sabit muda” ini sangat sulit menembus pendar cahaya senja.

“Secara astronomis, kondisi ini berada pada batas yang menantang. Keberhasilan pengamatan akan sangat bergantung pada transparansi langit, kondisi atmosfer, serta kecanggihan metode yang digunakan,” tulis pihak Bosscha.

Untuk menyiasati tantangan ini, Bosscha tidak hanya mengandalkan mata telanjang. Mereka mengerahkan:

Teleskop Modern: Digunakan di markas pusat, Lembang.

Instrumen Pencitraan Digital: Untuk menangkap kontras cahaya yang tipis.

Ekspedisi ke Aceh: Tim juga melakukan pengamatan di Observatorium Lhok Nga, Aceh, karena wilayah ini secara geografis memiliki posisi hilal yang sedikit lebih tinggi dibanding wilayah lain di Indonesia.

Bukan Sekadar Angka, Tapi Bagian dari Riset Jangka Panjang

Mungkin banyak yang bertanya, “Jika sudah tahu sulit dilihat, mengapa tetap dilakukan pengamatan?”

Bagi Bosscha, pengamatan ini lebih dari sekadar menentukan awal bulan. Ini adalah bagian dari penelitian jangka panjang untuk memperkaya basis data visibilitas bulan sabit di wilayah tropis seperti Indonesia. Data ini sangat berharga untuk memverifikasi apakah kriteria MABIMS yang saat ini digunakan sudah benar-benar sesuai dengan kondisi atmosfer tanah air.

Menanti Keputusan Resmi di Sidang Isbat

Meski memiliki data teknis yang lengkap, Observatorium Bosscha tetap memegang prinsip profesionalisme dengan menyerahkan seluruh hasil perhitungan dan pengamatannya kepada pemerintah.

Hasil dari Lembang dan Aceh akan menjadi masukan berharga bagi Kementerian Agama dalam Sidang Isbat yang akan digelar pada Kamis malam. Bosscha berfungsi sebagai penyedia data saintifik, sementara keputusan hukum (isbat) tetap berada di tangan pemerintah.

Tantangan cuaca dan posisi astronomis yang rendah menjadikan pengamatan hilal Maret 2026 ini salah satu yang paling menarik untuk diikuti. Mari kita nantikan hasil resminya, sembari mengapresiasi kerja keras para astronom kita yang bekerja di balik layar demi akurasi waktu ibadah kita. (*)

banner 300x250

Pos terkait

banner 300×250