BERITABANGKA.COM – Di tengah hiruk pikuk politik Pulau Konoha, muncul fenomena menarik seorang wakil rakyat yang baru naik panggung sudah tampil layaknya politisi kawakan. Sayangnya, bukan karena prestasi, melainkan karena gencarnya pencitraan. Mereka tampak sibuk menata wicara, menebar senyum, dan mencari sorotan kamera, seolah lupa bahwa tugas utama wakil rakyat adalah bekerja, bukan tampil.

Warga Konoha menyebutnya “bau kencur idealis” sosok muda yang belum matang, namun sudah berlagak paling tahu arah politik dan moral bangsa. Di media sosial, mereka rajin berpidato soal keadilan, rakyat kecil, dan transparansi, padahal kontribusi nyatanya nyaris tak terlihat.

Fenomena ini mencerminkan gejala klasik dalam dunia politik dengan pencitraan dini tanpa kompetensi. Ketika jabatan baru disandang, semangat idealisme berubah menjadi panggung eksistensi. Alih-alih belajar dan bekerja, mereka justru mengandalkan retorika kosong yang dibungkus seolah perjuangan. Tak heran bila publik menyebutnya “ngandel bacot sampah jauh berkeadilan”.

Lebih ironis lagi, beberapa di antaranya datang dari latar belakang “anak mami politik” dibesarkan dalam kemapanan, dikarbit agar cepat matang. Tak melalui tempaan pengalaman, mereka tiba-tiba menjadi juru bicara rakyat. Akibatnya, setiap langkah yang diambil terasa canggung, dipenuhi sandiwara agar tampak heroik di depan publik.

Warga tentu bukan tidak bisa memaklumi semangat muda. Namun ketika semangat itu berubah menjadi ajang pamer moral, di situlah kelelahan publik dimulai. Masyarakat Konoha tidak membutuhkan simbol kesalehan palsu, melainkan kinerja nyata yang dirasakan di lapangan.

Politik seharusnya menjadi ruang pembelajaran, bukan pertunjukan. Anak muda yang masuk politik harusnya membawa ide segar, bukan memaksa diri menjadi “tua sebelum waktunya”. Seperti kata warganet, “besar sebelum waktu, memaksa ranum sebelum masa panen.”

Mungkin sudah saatnya wakil rakyat muda di Pulau Konoha berhenti mencari simpati dan mulai mencari solusi. Rakyat tidak butuh politisi yang pandai berbicara, tetapi pemimpin yang benar-benar bekerja. (*)