BERITABANGKA.COM – Jalur urat nadi energi dunia, Selat Hormuz, perlahan mulai menunjukkan celah bagi pelayaran internasional setelah sempat tertutup total akibat eskalasi konflik antara Iran dengan blok Amerika Serikat-Israel. Meski otoritas Iran masih memberlakukan penutupan ketat, sejumlah negara “sahabat” kini mulai mendapatkan lampu hijau untuk melintas.
Sayangnya, hingga Rabu (8/4/2026), Indonesia masih harus bersabar. Dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina (Persero), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, dilaporkan masih terjebak di kawasan konflik tersebut dan belum mendapatkan izin keluar.
Diplomasi ‘Jalur Langit’ RI Masih Berlanjut
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terus mengupayakan jalur diplomasi intensif. PT Pertamina International Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa pembahasan teknis mengenai keamanan pelayaran kedua tanker tersebut sedang berada di meja perundingan.
“Sejak isu ini muncul, PIS telah melakukan koordinasi intensif dengan pihak Kemenlu. Hingga saat ini, upaya diplomasi tersebut terus berjalan secara aktif,” ujar Vega Pita, Corporate Secretary PIS.
Daftar Negara yang Mendapat ‘Karpet Merah’ dari Iran
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz sebenarnya tetap terbuka bagi pihak-pihak yang tidak dianggap sebagai ‘musuh’.
Berikut adalah negara-negara yang telah berhasil meloloskan armadanya dari ketegangan di Teluk Persia:
* China: Sebagai mitra strategis, kapal kontainer milik Cosco Shipping Corp terpantau sudah keluar dari selat sejak akhir Maret lalu.
* Malaysia: PM Anwar Ibrahim menyampaikan apresiasi khusus kepada Presiden Iran. Bahkan, tujuh tanker Malaysia dibebaskan dari biaya tol yang diberlakukan Iran selama konflik.
* Thailand: Tanker milik Bangchak Corporation akhirnya bisa berlayar setelah tertahan sejak 11 Maret, berkat koordinasi apik dengan otoritas Iran dan Oman.
* Jepang & Filipina: Keduanya telah mengantongi jaminan keamanan melalui pembicaraan tingkat tinggi antar Menteri Luar Negeri.
* Pakistan & Irak: Iran memberikan kuota pelintasan harian bagi Pakistan dan pengecualian khusus bagi ekspor minyak Irak demi menjaga stabilitas pasokan regional.
Masalah Asuransi: Tantangan Terbesar Pelayaran
Selain faktor keamanan fisik, Araqchi menyebutkan bahwa banyak pemilik kapal yang enggan melintas karena kendala asuransi.
Mayoritas perusahaan asuransi internasional menolak memberikan pertanggungan (cover) untuk pelayaran di Selat Hormuz saat ini karena statusnya yang dianggap zona risiko tinggi.
Bagi negara-negara yang mendapat status “sahabat”, Angkatan Bersenjata Iran memberikan jaminan jalur aman khusus. Hal inilah yang kini sedang diperjuangkan oleh pemerintah Indonesia agar Pertamina Pride dan Gamsunoro bisa segera melanjutkan perjalanan membawa pasokan energi nasional.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Vital?
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur distribusi bagi sekitar 20% kebutuhan minyak mentah dunia. Gangguan berkepanjangan di titik ini tidak hanya berdampak pada terjebaknya kapal tanker, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan harga BBM global, termasuk di pasar Asia. (Bloomberg)








