Banjir Sepinggang Orang Dewasa Rendam Lubuk Besar, Warga Bangka Tengah Terjebak di Tengah Air Keruh
BERITABANGKA.COM – Banjir dengan ketinggian mencapai sepinggang orang dewasa merendam wilayah Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Jumat (9/1/2026). Air kecoklatan menutup pemukiman warga hingga fasilitas jalan umum, membuat aktivitas masyarakat lumpuh total.
Sejumlah rumah warga tampak terendam dari halaman hingga bagian dalam. Jalan desa yang biasa menjadi akses utama warga tertutup air berlumpur, menyulitkan kendaraan roda dua maupun roda empat untuk melintas. Warga terpaksa berjalan menembus genangan demi menyelamatkan barang-barang penting.
“Air naik cepat, warnanya coklat pekat. Kami tidak sempat berbuat banyak,” ujar salah satu warga Lubuk Besar saat ditemui di lokasi banjir.
Wilayah Rendah dan Saluran Air Tertutup
Lubuk Besar dikenal sebagai kawasan dengan kontur tanah rendah. Namun, kondisi tersebut diperparah dengan saluran air yang tertutup dan rusak, sehingga air hujan tidak dapat mengalir normal. Warga menilai, aktivitas pertambangan timah di sekitar wilayah itu ikut memperburuk daya tampung lingkungan.
Lubang-lubang bekas tambang dan sedimentasi tanah menyebabkan aliran air tersendat. Saat hujan deras turun, air dengan cepat meluap ke pemukiman.
Endapan lumpur dari area pertambangan membuat air banjir berwarna kecoklatan dan pekat.
“Kalau hujan deras, kami sudah khawatir. Sekarang saluran air banyak tertutup, air tidak punya jalan,” keluh warga lainnya.
Bangka Belitung dan Luka Pertambangan
Bangka Belitung memang dikenal sebagai daerah penghasil timah. Namun di balik kekayaan itu, tersimpan persoalan lingkungan yang kian mengkhawatirkan. Aktivitas tambang dari berbagai sudut wilayah meninggalkan jejak kerusakan yang perlahan berubah menjadi ancaman bagi keselamatan manusia.
Banjir di Lubuk Besar menjadi gambaran bagaimana kerakusan manusia terhadap sumber daya alam dapat berujung pada bencana.
Demi kekayaan pribadi dan kepentingan jangka pendek, alam dipaksa menanggung beban, sementara warga kecil menjadi korban pertama.
Fenomena ini bencana ekologis akibat rusaknya keseimbangan lingkungan.
Pemerintah Bangka Tengah Turun ke Lokasi
Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah turun langsung ke Lubuk Besar untuk melihat kondisi warga terdampak banjir. Kehadiran pemerintah daerah di lokasi menjadi bentuk respons awal atas bencana yang melanda masyarakat.
Pejabat daerah meninjau pemukiman yang terendam dan berdialog dengan warga untuk mendengar langsung keluhan serta kebutuhan mendesak di lapangan. Penanganan darurat dan pendataan dampak banjir.
Meski demikian, warga berharap langkah pemerintah tidak berhenti pada peninjauan semata, melainkan diikuti dengan solusi jangka panjang, terutama penataan saluran air dan pengendalian aktivitas pertambangan yang merusak lingkungan.
Warga Menanti Solusi
Bagi masyarakat Lubuk Besar, banjir bukan peristiwa baru. Namun, intensitas dan dampaknya kian parah dari waktu ke waktu. Warga kini hidup dalam kecemasan setiap hujan turun, takut air kembali naik dan merendam rumah mereka.
“Kalau hanya bantuan sementara, besok-besok banjir lagi. Kami ingin masalahnya diselesaikan,” kata seorang warga dengan nada pasrah.
Banjir Lubuk Besar menjadi peringatan keras bahwa pembangunan tanpa kendali dan eksploitasi alam tanpa batas akan selalu meminta korban. Ketika alam rusak, manusia tak hanya kehilangan harta, tetapi juga keselamatan dan masa depan. (*)















