BEIJING — Sebuah terobosan ilmiah kembali lahir dari jantung Kota Terlarang. Tim peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) berhasil mengungkap asal-usul geografis kayu-kayu kuno yang menjadi struktur utama kompleks istana berusia lebih dari 600 tahun itu. Temuan tersebut bukan hanya mengisi celah sejarah, tetapi juga membuka era baru pemanfaatan sains dalam arkeologi Asia.
Ketika wisatawan berkeliling di antara gerbang megah dan aula berornamen emas di Kota Terlarang, mereka mungkin tak menyadari bahwa setiap balok kayu di sana menyimpan catatan iklim ratusan tahun lalu. Bagi Xu Chenxi, peneliti dari Institut Geologi dan Geofisika CAS, kayu-kayu itu adalah “arsip hidup” yang bisa berbicara lewat lingkar-lingkar pertumbuhannya.
Xu, yang selama bertahun-tahun meneliti paleoklimat menggunakan isotop stabil dalam cincin pohon, akhirnya berhasil menerapkan keahliannya pada studi arkeologi. Tradisi penentuan usia bangunan kuno biasanya mengandalkan catatan sejarah dan gaya arsitektur—metode yang sering kali tidak memiliki presisi ilmiah. Namun, Xu menawarkan pendekatan berbeda.
“Kayu menyimpan memori. Ia merekam variabilitas iklim masa lalu dan bisa menjadi petunjuk akurat asal-usulnya,” kata Xu seperti dikutip China Science Daily.
Kunci dari penelitian ini adalah analisis isotop oksigen dalam lingkar pohon, metode yang bekerja layaknya “sidik jari curah hujan”. Setiap wilayah memiliki komposisi isotop khas yang tercermin pada pertumbuhan pohonnya. Dengan membandingkan sampel kayu dari Kota Terlarang dengan basis data isotop nasional yang telah disusun bertahun-tahun, tim dapat melacak dari mana kayu itu berasal.
Hasilnya mencengangkan: tiga jenis kayu kuno yang diteliti menunjukkan kurva isotop yang hampir identik, dengan kecocokan tertinggi mengarah ke kawasan China timur laut. Temuan ini kemudian diperkuat oleh catatan sejarah pengadaan material pada masa Dinasti Ming dan Qing.
“Kegembiraan saat melihat sinyal isotop cocok sempurna dengan dokumen sejarah—itu tak ternilai,” ungkap Xu.
Selain asal geografis, penelitian ini juga mengungkap perubahan strategi material pada dua dinasti besar tersebut: dari penggunaan kayu nanmu yang langka dan mahal menuju kayu pinus yang lebih mudah didapat. Pengetahuan ini memberi perspektif baru tentang dinamika ekonomi, logistik, hingga kebijakan sumber daya pada masa kejayaan kekaisaran.
Studi tersebut telah dipublikasikan di jurnal npj Heritage Science, dan tim kini melanjutkan penelitian dengan menelusuri asal-usul tiang nanmu di Aula Kultivasi Mental (Yangxin Dian) di dalam Kota Terlarang.
Upaya ini didukung basis data isotop oksigen lingkar pohon untuk China dan Asia Timur—salah satu yang paling lengkap di dunia. Menurut Xu, manfaatnya tak terbatas pada arkeologi.
“Setiap kayu kuno adalah buku harian iklim,” ujarnya. “Dengan memahaminya, kita dapat merekonstruksi sejarah kekeringan, hujan ekstrem, hingga pola perubahan iklim jangka panjang.”
Penemuan ini memperkuat posisi China sebagai salah satu pionir dalam memadukan ilmu iklim, dendrokronologi, dan arkeologi—sebuah langkah penting untuk memahami masa lalu dan mempersiapkan masa depan. (*)









