Bung Hatta sungguh sangat tidak suka, bila rakyat dikondisikan membeo pemimpin. Apalagi menjadi obyek tipudaya penguasa. Negeri yang rakyatnya hanya tahu menerima perintah dan tidak pernah turut memerhatikan atau mengatur pemerintahan negerinya, tidak memiliki kemauan dan melakukan kemauan ini dengan penuh tanggungjawab penuh ungkap Bung Hatta.
Jika rakyat dalam kondisi menyedihkan semacam ini, Hatta meramalkan, walaupun Indonesia MERDEKA, rakyat tetap tertindas oleh yang berkuasa.
Pemimpin sekaliber Bung Hatta tidak pernah menghambakan diri kepada kekuasaan.
Bagi Bung Hatta, kekuasaan adalah alat untuk memperjuangkan cita-cita bersama demi kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan bangsa dan negara. Tokoh proklamator ini juga tidak pernah mengambil keuntungan pribadi, baik saat menjabat sebagai Wakil Presiden maupun saat pensiun. Tetap menjaga nama besar, teguh memegang prinsip dan menjaga martabat diri.
Dan prinsip Bung Hatta ini amat sesuai dengan ciri pemimpin dalam Islam yakni tidak pernah meminta jabatan. Rasullullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu, “Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Seorang pemimpin yang baik sebagaimana yang dicita-citakan Bung Hatta adalah pemimpin yang ingin mendidik rakyatnya menjadi cerdas. Bukan hanya cerdas otaknya, tetapi cerdas hidupnya. Tahu akan harkat dan martabatnya, tidak rendah diri serta berkarakter.
Dan bagi seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati. Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah SAW bersabda, “Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).
Kini ditengah himpitan ekonomi yang menerpa bangsa ini secara komprehensif ada frasa baru tentang kepemimpinan yang resonansinya hinggap hingga ke otak besar masyarakat bahkan menjadi trade mark baru di masyarakat yakni Pemimpin Disclamer atau kepemimpinan yang gagal yakni kepemimpinan yang tidak dirasakan kehadirannya oleh warga masyarakat, tidak dipedulikan oleh rakyat sebagai pemberi amanah kecuali oleh sekelompok orang yang memang hidup dan berkehidupan dari pemimpin disclaimer.
Pemimpin bercorak kegagalan dapat dilihat dari prestasinya saat memimpin yang terkesan biasa-biasa saja. Tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan rakyatnya dan membanggakan masyarakatnya. Hanya gagah dalam kalangan tertentu saja dan tidak bisa berkompetisi dengan dunia luar. Ibarat analogi, katak dalam tempurung.
Tak pelak bagi suatu bangsa, negara, bahkan daerah kalau dipimpin oleh pemimpin gagal, maka frasa prestasi hanya ada dalam retorika saat pidato. Hanya terbaca oleh mata publik di koran halaman dalam. Tak ada sesuatu yang membanggakan warga yang melahirkannya sebagai seorang pemimpin. Tak ada sama sekali. Tak berdaya saing. Zonk prestasi. Prestasi hanya impian dan mimpi disiang bolong. Malah sejuta predikat buruk justru dianugerahkan kepada bangsa, dan daerah yang dipimpinnya.
Menjelang Pilkada Serentak 2020, kita sebagai rakyat dan pelahir pemimpin sudah semestinya intropeksi diri. Sudah waktunya sebagai pemberi amanah, mampu melahirkan pemimpin pembahagia rakyat. Pemimpin yang tahu dengan bahasa rakyat. Pemimpin yang paham betul dengan suasana hati warganya. Pemimpin yang memahami karakter publik yang dipimpinnya dan mampu membahagiakan rakyat dengan amanah yang dititipkan rakyat di TPS kepadanya sebagai pemimpin pilihan rakyat.
Dan kita sebagai rakyat jangan sampai melahirkan pemimpin gagal. Pemimpin gagal ada di negara ini. Mulai dari Miangas hingga Pulau Rote. Dan bagi kita sebagai rakyat suatu daerah bersiap-siaplah untuk bermimpi buruk kalau dipimpin oleh pemimpin gagal. Serem Bung. Sangat serem sekali.







