Potensi dan Peluang Agribisnis Kopi di Babel: GAP dan GHP Harus Sejalan

banner 468x60

Berdasarkan data BPS tahun 2019, wilayah pengembangan kopi terluas terdapat di kabupaten Bangka Tengah dan Belitung Timur. Trend peningkatan luas lahan kopi juga menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Hal ini menunjukkan animo masyarakat yang meningkat untuk menanam kopi. Bahkan beberapa wilayah telah lama mendeklarasikan sebagai penghasil kopi walaupun bersifat spot-spot, sebut saja kopi Kopling di Bangka, kopi Kater di Belitung Timur dan kopi Bukit Pading di Bangka Tengah.

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Babel, Suharyanto, mengungkapkan bahwa peluang peningkatan produktivitas tersebut tentunya masih dapat ditingkatkan melalui penerapan Good Agricultural Practice (GAP) yang baik dan benar.

“Salah satu faktor penentunya adalah penggunaan bahan tanam dari klon yang adaptif dan memiliki potensi hasil tinggi. “Klon unggul” di sini merupakan tanaman yang dihasilkan dari dua induk untuk menghasilkan tanaman yang unggul,” kata Suharyanto melalui keterangan tertulis kepada Beritabangka.com, Minggu (21/6).

Tumpangsari kopi dan lada di Desa Kebun Percontohan (KP) Petaling Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka. (foto: istimewa).

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurutnya, penggunaan tanaman klon unggul akan meningkatkan potensi produktivitas kopi. Jenis kopi yang memiliki daya adaptabilitas untuk agroekosistem Bangka Belitung yang didominasi dataran rendah adalah kopi robusta, sedangkan arabika akan lebih rentan terhadap penyakit karat daun jika ditanam pada dataran rendah.

Klon unggul kopi robusta BP 308 umur 4 tahun. (foto: istimewa).

 

Saat ini, tambah Suharyanto, Balitbangtan BPTP Babel tengah mengembangkan beberapa klon unggul dari Puslitkoka dan Balitri seluas 2 hektar baik yang akan digunakan sebagai kebun produksi maupun inisiasi kebun entres. Beberapa klon unggul tersebut antara lain BP308, BP409, BP939, SA237, SA203, BP305, BP936, BP858 dan BP308.

banner 300x250
banner 300×250