Pendidikan bukan lagi sebagai sebuah upaya pembangkitan kesadaran kritis. Hal ini mengakibatkan terjadinya praktek jual-beli gelar, jual-beli ijasah hingga jual-beli nilai. Belum lagi diakibatkan kurangnya dukungan pemerintah terhadap kebutuhan tempat belajar, telah menjadikan tumbuhnya bisnis-bisnis pendidikan yang mau tidak mau semakin membuat rakyat yang tidak mampu semakin terpuruk. Pendidikan hanyalah bagi mereka yang telah memiliki ekonomi yang kuat, sedangkan bagi kalangan miskin, pendidikan hanyalah sebuah mimpi.
Banyak orang membicarakan kepentingan manusia, namun hanya menjadi sebuah ungkapan kosong, karena mereka tidak mengerti bahwa kenyataan dimensi humanis manusia hanya dijadikan objek penderitaan. Banyak orang mengklaim dirinya mempunyai komitmen dalam usaha pembebasan tetapi mereka masih menganut mitos yang menentang tindakan-tindakan humanis.
Kata pembangunan sering dijadikan celotehan dalam setiap kebijakan dan kegiatan kurikulum, ini telah cenderung menjadi mitos dan mengalami sakralisasi. Arti pembangunan itu sendiri adalah perubahan sosial dari kondisi tertentu ke kondisi yang lebih baik yang seolah-olah tersembunyi nilai kebaikan dibalik pelaksanaan pembangunan, ini dikarenakan tujuan dan anggapan dasarnya adalah baik, maka proses pembangunan mengizinkan pengorbanan-pengorbanan berbagai dimensi kemanusiaan.
Pertanyaannya kemudian nilai yang dianggap baik itu menurut siapa? Lapisan yang mana dan kelompok yang mana yang harus dikorbankan?
Pembangunan yang bertujuan merubah kondisi sosial dilaksanakan dengan cara memberdayakan ekonomi, ironisnya hal ini cenderung menciptakan ketidak berdayaan politis dan lapisan masyarakat tertentu. Pembangunan kita sekarang lebih cenderung kepada pembebasan masyarakat dari kemiskinan ekonomi, namun tidak membebaskan manusia dari kondisi politik tanpa dominasi atau demokratis.
Oleh karenanya kita harus kembali kepada nilai-nilai Pancasila untuk pendidikan kita. Membumikan pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Membumikan Pancasila berarti menjadikan nilai-nilai Pancasila menjadi nilai-nilai yang hidup dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan telah mengkhianati misi utamanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tanpa membeda-bedakan status sosial.
Realitasnya pendidikan saat ini lebih sibuk melayani golongan sosial tertentu dan menjadi pelayan setia pada kapitalisme. Materialisasi pendidikan sudah mulai menggejala dan menggeser ideologi pendidikan mengarah kepada ideologi materiali-kapitalis dan kurikulum disusun dan diorientasikan untuk mampu mendapatkan pekerjaan dibungkus dengan baju modernitas.
Harus diakui pendidikan telah kehilangan orientasi dan mengalami krisis identitas. Kita tidak memiliki sistem pendidikan yang bersifat ke-Indonesiaan. Melihat dari berbagai masalah di atas, dapat disimpulkan karena kita mengkhianati dari nilai-nilai pancasila sebagai falsafah hidup kita sebagai bangsa Indonesia.
Filsafat Pendidikan pancasila sudah seharusnya sebagai sebuah paradigma pendidikan yang mampu mensintesakan antara keinginan sistem pendidikan modern dan sistem pendidikan yang menginginkan terjaganya nilai-nilai manusia pancasilais, dan perlu diperhatikan bahwa nilai-nilai pancasila seharusnya tidak hanya menyentuh ranah kognisinya saja, tapi juga pada ranah afeksi dan psikomotorik.
Terima kasih, 5 Mei 2021.
Penulis ini bernama Falih Nasrullah, berasal dari Toboali, Bangka Selatan.




















