“Hanya pihak kepolisian dari Polres Bangka Selatan yang pernah mendudukan satu meja dengan perwakilan yang kontra pada 5 Maret 2020. Tetapi dengan keangkuhan dan keegoisan pihak yang kontra tidak mau berdiskusi dengan kami, dan kami disuruh keluar dari ruang Rajawali Polres Bangka Selatan”, tutur Rosidi.
Kecewa dengan Ketua DPRD Bangka Selatan
Rosidi juga mengaku kecewa dengan Ketua DPRD Basel, Erwin Asmadi. Karena sampai saat ini surat yang mereka kirimkan ke DPRD untuk audiensi belum ditanggapi serta tidak ada penjadwalan ulang. Tetapi untuk yang kontra, kata Rosidi, ia rela berjalan kaki dari Gedung DPRD ke Kantor Setda, bahkan ikut berorasi dan mengawal yang kontra hingga ke Kantor PT Timah Tbk di Pangkalpinang.
“Kami juga bisa jadi pihak pengintimidasi dan pengintervensi. Kami juga mampu tidur serta membawa ikan-ikan busuk ke Kantor Bupati. Kami juga mampu demo berhari-hari. Tetapi, itu tidak kami lakukan karena kami tidak mau jadi kelompok pembangkang. Kami sangat menghargai aparat kepolisian dan Satpol PP, kasihan mereka juga punya anak dan istri di rumah,” ucap Rosidi.
Mengutip salah satu media, Ketua DPRD Bangka Selatan, Erwin Asmadi menjelaskan, untuk jadwal audiensi dengan massa pro tambang akan segera dibahas di Badan Musyawarah (Banmus).
“Jadwal dan waktunya nanti akan dibahas di Banmus. Masih menunggu jadwal di Banmus”, kata Erwin







