PANGKALPINANG, BERITABANGKA.COM – Menjelang Pilkada 2025, wajah Basid Cinda, bos reklame yang juga diduga bakal masuk gelanggang politik, makin sering “menyapa” warga dari sudut-sudut kota. Mulai dari perempatan jalan, tembok toko, hingga tiang listrik, spanduk dan baliho bergambar dirinya seolah jadi pemandangan wajib di Pangkalpinang.
Tapi, di balik gencarnya “kampanye diam-diam” itu, muncul satu pertanyaan semua reklame itu legal atau sekadar nekat nempel?
Pemerintah Kota Pangkalpinang rupanya tak ingin kecolongan. Mereka tengah bersiap melakukan aksi bersih-bersih reklame ilegal. Satgas Reklame yang dibentuk sejak akhir Januari 2025 bakal segera turun tangan, menyisir sekitar 900-an unit reklame yang tersebar di seluruh penjuru kota.
“Kami akan periksa satu per satu perizinannya. Kalau tidak sesuai, ya akan kami tertibkan. Ini sudah jadi instruksi langsung dari Presiden Prabowo untuk merapikan wajah kota,” kata Drs. Juhaini, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pangkalpinang sekaligus Ketua Satgas Reklame, Sabtu (31/5/2025).
Lebih dari sekadar estetika, Juhaini menegaskan bahwa penertiban ini menyangkut keadilan dan pendapatan daerah. Banyak reklame tak berizin yang membuat PAD Kota Pangkalpinang bocor di sana-sini.
“Visual kota jadi semrawut, PAD juga terganggu. Jadi ini dua masalah sekaligus yang harus segera kami bereskan,” lanjutnya.
Sementara itu, Satpol PP sebagai ujung tombak penindakan di lapangan sudah pasang kuda-kuda. Kepala Satpol PP, Efran, menyatakan bahwa pihaknya tinggal menunggu aba-aba dari instansi teknis.
“Kami siap bergerak. Tapi memang harus ada tembusan resmi dulu. Kalau sudah ada, langsung kami sikat habis,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Kota Pangkalpinang, Mie Go, juga ambil bagian. Ia berjanji akan segera memanggil seluruh OPD dan anggota Satgas untuk rapat koordinasi dalam waktu dekat.
“Minggu depan kita rapatkan, semua akan kita panggil,” katanya singkat.
Yang menarik, saat dimintai komentar, Basid Cinda memilih diam. Tak ada klarifikasi, tak ada pembelaan. Namun upaya konfirmasi dari awak media masih terus diupayakan.
Publik kini menanti apakah Satgas Reklame benar-benar akan bersikap objektif dan berani menertibkan semua reklame liar, termasuk yang menampilkan wajah sang bos reklame? Atau justru bakal mentok di papan-papan kecil tak bernyawa?
Satu hal pasti, aroma politik mulai terasa di udara Pangkalpinang. Dan papan reklame kini jadi medan tempur pertama. (*)












