Dukun dianggap penting sebagai pembisik yang handal. Tidak jarang dukun juga digunakan untuk menyingkirkan lawan atau kawan politik yang berpotensi menjadi ancaman dari kelangsungan rejim berkuasa di masa depan.
Ki Gendeng Pamungkas, seorang dukun santet terkemuka, mengaku bahwa dia sering diminta oleh para politisi dan lingkaran dalam kekuasaan untuk menyantet dan menghilangkan nyawa lawan politik, bahkan terhadap kawan yang potensial “menggunting dalam lipatan”.
Aspek mistis dalam kepemimpinan Soeharto memang dapat dijelaskan sebagai bagian dari kultur kepemimpinan Jawa. Namun sebagai fakta sosial, kepemimpinannya, dengan sengaja, menyandarkan diri kepada penasihat spiritual dan mistis. Ada sejumlah dukun loyal yang “memagari” kepemimpinannya (Liberty, 1-10 Juni 1998).
Terdapat paling tidak “seribu dukun” di belakang Soeharto dari seluruh penjuru negeri (Gelanggang Rakyat, 18 Oktober 1998). Romo Marto Pangarso, Romo Diat, Soedjono Hoemardani, Ki Ageng Selo, Soedjarwo, Darundrio, mbah Diran, serta Eyang Tomo adalah sedikit dari nama-nama para penasihat spiritual yang setia.
Selain itu, kepemimpinan Soeharto juga mendapat “legitimasi” dari kepemilikan benda-benda ghaib ageman, pulung dan kekuatan mistis (Lihat: Vatikiotis, 2008). Soeharto memiliki paling tidak 113 pusaka dari penjuru tanah air yang dipercaya berkontribusi pada kepemimpinan politiknya yang kokoh.
Menurut Ki Edan Amongrogo, Soeharto bahkan memiliki pusaka andalan berupa “Mirah Delima” yang banyak membantunya dalam menjalankan tugas-tugas kepemimpinannya (Liberty, 1-10 Juni 1998). Jelaslah, dukun, pusaka dan kepemimpinan Soeharto terintegrasi seperti bayangan yang tidak bisa dipisahkan.







