BERITABANGKA.COM – Yakin ekonomi Bangka Belitung sedang baik-baik saja? Sekilas memang tampak stabil, tapi kalau kita lihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS), ternyata ada dinamika menarik di balik angka-angka itu.
Per Mei 2025, BPS mencatat inflasi tahunan (year-on-year) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,79 persen. Artinya, indeks harga konsumen (IHK) naik dari 104,27 menjadi 105,09. Tapi tunggu dulu kalau dilihat dari bulan ke bulan (month-to-month), justru terjadi deflasi sebesar 0,89 persen.
“Secara tahunan memang ada kenaikan harga, tapi bulan ini justru banyak harga yang turun. Jadi, kondisinya fluktuatif,” ujar Kepala BPS Babel, Toto Haryanto Silitonga, saat merilis data di Pangkalpinang, Senin (2/6).
Lalu, apa saja yang bikin inflasi naik? Ternyata kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang angka paling tinggi dengan kenaikan 5,16 persen. Disusul pendidikan (3,20 persen), pakaian dan alas kaki (1,53 persen), hingga transportasi dan kesehatan.
Di sisi lain, deflasi atau penurunan harga datang dari bahan pangan yang biasa ada di dapur rumah tangga. Mulai dari sawi hijau, bawang merah, beras, hingga daging ayam ras ikut menyumbang turunnya harga. Bahkan telepon seluler dan bensin juga masuk daftar penyumbang deflasi.
Komoditas yang mendorong inflasi secara tahunan pun cukup beragam. Dari barang kebutuhan harian seperti minyak goreng dan kopi bubuk, sampai barang mahal seperti emas perhiasan, sepeda motor, dan mobil.
“Untuk inflasi tertinggi pada April 2025 kemarin tercatat di Kota Pangkalpinang, yakni 1,14 persen,” tambah Toto.
Fenomena ini bikin ekonomi Babel seperti ombak di laut tampak tenang dari kejauhan, tapi kalau diselami, banyak riak yang perlu diwaspadai. Meski angka inflasi tahunan masih dalam batas aman, masyarakat tetap perlu siap-siap dengan kemungkinan lonjakan harga mendadak, terutama pada komoditas pokok.
Kondisi deflasi bulanan bisa jadi tanda lemahnya daya beli atau menurunnya permintaan. Bisa juga karena faktor musiman atau distribusi barang yang belum optimal. Artinya, kerja rumah pemerintah masih panjang: memperkuat sektor riil, memastikan distribusi barang lancar, dan menjaga daya beli tetap stabil.
Ekonomi Bangka Belitung memang belum “sakit”, tapi tetap perlu dirawat agar tetap kuat menghadapi guncangan ekonomi berikutnya. (*)













