Jaksa Agung Gencar Diserang, Spiritualis Waspadai Propaganda Koruptor

banner 468x60

BERITA BANGKA.COM, TOBOALI–

Serangan gencar terhadap Kejaksaan Agung (Kejagung) dan termasuk Jaksa Agung ST Burhanuddin secara pribadi, merupakan bentuk propaganda para koruptor dan kolabolatornya untuk mengganggu upaya penegakan hukum. Hal ini, diutarakan Kepala Seksi (Kasi) Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka Selatan (Basel), Dody Prihatman Purba, Senin (27/9/2021)

 

Dody menjelaskan, bahwa apa yang diutarakannya tersebut mengutip seperti yang disampaikan oleh Spiritualis Nusantara, Kidung Tirto Suryo Kusumo terkait gencarnya serangan oleh pihak-pihak tertentu terhadap sosok Jaksa Agung Burhanuddin sejak kasus-kasus mega-korupsi berhasil dibongkar Kejagung.

 

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Presiden Jokowi pernah menyatakan bahwa kiprah kejaksaan adalah wajah pemerintah. Artinya, serangan dan propaganda terhadap kejaksaan sama saja dengan upaya mencoreng wajah atau kewibawaan pemerintah,” ujar Dody sapaan akrab Kasi Intelijen Kejari Basel.

 

Selain itu, lanjutnya, Presiden Jokowi juga menyampaikan bahwa kejaksaan merupakan institusi terdepan dalam penegakan hukum, pencegahan dan pemberantasan korupsi serta mengawal pembangunan nasional. Pernyataan ini, disampaikan Presiden saat membuka Rapat Kerja (Rakerja) Kejaksaan RI di Istana Negara pada 14 Desember 2020 lalu.

 

“Selain wajah pemerintah, Presiden menyebut kiprah kejaksaan adalah wajah kepastian hukum Indonesia di mata rakyat dan di mata dunia Internasional,” jelas Dody.

 

Menurut Spiritualis Nusantara, Kidung Tirto Suryo Kusumo, bahwa para koruptor kini semakin terpojok sehingga menggunakan segala cara untuk mempertahankan diri dan menyerang balik penegak hukum.

 

“Saya melihat pemberantasan korupsi sekarang sudah on the track. Kejaksaan, Komisi Pemberantasan Korupsi dan Polri semakin profesional dan berkolaborasi. Ini yang ditakuti koruptor,” kata Kidung yang sering mengamati masalah hukum dan politik nasional.

 

Belum lama ini, Jaksa Agung kembali diserang mengenai gelar profesor kehormatan dan isu ijazah perguruan tinggi. Meskipun sudah diklarifikasi secara resmi oleh Pusat Penerangan Hukum Kejagung, namun isu itu terus digulirkan seolah-olah menjadi polemik di masyarakat. Padahal, Komisi Kejaksaan (Komjak) sudah mengimbau agar isu ijazah Jaksa Agung Burhanuddin tidak dijadikan polemik. Sebab, data jaksa dan pegawai Kejagung terus diverifikasi sehingga kecil kemungkinan salah.

 

“Saya kira soal itu sudah clear. Yang jadi pegangan bukan informasi yang beredar sebagai info medsos (media sosial), melainkan yang ada dalam data kepegawaian (Simkari Kejaksaan RI),” kata Ketua Komjak, Barita Simanjuntak.

 

Hal senada disampaikan Dekan Fakultas Hukum Universitas Jember (UNEJ), Bayu Dwi Anggono. Menurutnya, isu mengenai riwayat pendidikan Jaksa Agung hanya menimbulkan kegaduhan dan sudah berlebihan. Apalagi memunculkan wacana pembetukan tim investigasi terkait riwayat pendidikan Jaksa Agung.

 

“Dampaknya bisa membuat pimpinan kejaksaan menjadi tidak fokus untuk melaksanakan tugasnya, utamanya penanganan berbagai kasus korupsi yang sedang ditangani,” kata Bayu. (***)

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60