Penulis: Tri Prasetio, S.Pd.
BANGKA SELATAN – Bangka Belitung merupakan salah satu daerah dengan budaya melayu-nya yang kental.
Salah satu warisan budaya Melayu yaitu penggunaan tudung saji di beberapa kegiatan kebudayaan seperti nganggung. Tudung saji adat melayu berbeda dengan tudung saji yang beredar di pasaran. Adapun perbedaan yang mencolok berada pada ornamen maupun hiasan yang melekat pada tudung saji tersebut.
Tudung saji merupakan alat yang digunakan untuk menutupi makanan. Lebih jauh dari itu, tudung saji dalam budaya Melayu banyak memiliki makna. Salah satu makna di balik tudung saji yaitu gotong royong. Biasaya tudung saji ini didominasi dengan warna merah dan motif – motif tertentu. Namun dewasa ini banyak sekali pembaruan dalam pembuatan tudung saji, sehingga penggunaan warnanya pun beragam.
Seperti yang dibuat oleh para Siswa SMAN 3 Toboali. Para murid melalui arahan Elya Rosda, S.T. sebagai kepala sekolah membuat tudung saji yang aesthetic. Ciri yang mencolok yakni penggunan pita yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk pola tertentu. Pola yang dihasilkan juga terinspirasi dari beberapa budaya yang ada di Indonesia. Jadi secara cerdas pola tersebut merupakan manivestasi dari perpaduan budaya lokal dengan budaya Melayu.
Perpaduan yang sempurna ini memikat banyak pembeli. Salah satu yang membeli karya murid tersebut yaitu Samsinar, S.Pd. sebagai kepala SMAN 1 Airgegas.
“tudung saji ini berbeda dengan yang saya temui selama ini, di mana dari lembaran pita yang dianyam sedemikian rupa dapat membentuk satu karya seni yang luar biasa,” Samsinar, S.Pd. (Kepala SMAN 1 Airgegas).
Lebih lanjut beliau menjelaskan “yang membuat saya bangga adalah, ini merupakan karya putra putri daerah,” Selain itu, produk yang telah dibuat oleh siswa SMAN 3 Toboali diapresiasi oleh Hj. Elizia Riza Herdavid, S.E. ketua TP PKK sekaligus istri dari H. Riza Herdavid ,S.T, M.Tr.IP. selaku Bupati Bangka Selatan.
“Saya sangat mengapresiasi produk kreasi dari siswa SMAN 3 Toboali. Karena tudung saji ini banyak digunakan dalam kegiatan kebudayaan di Bangka Selatan,” Elizia Riza Herdavid, S.E. Lebih lanjut “saya siap untuk ikut aktif dalam mempromosikan hasil kreasi ini supaya lebih banyak yang mengenal,” tutupnya.
Selain sudah banyak peminatnya, tudung saji karya Siswa SMAN 3 Toboali juga secara aktif ikut serta dalam event pameran. Sehingga output dari keikutsertaan tersebut adalah semakin dikenalnya karya terbaik Siswa SMAN 3 Toboali ini. Seperti event yang diadakan oleh pemprov Bangka Belitung, yang diikuti oleh perwakilan SMA se-Bangka Belitung. Dalam event tersebut tudung saji ini sangat menyita banyak perhatian siapapun yang melihatnya.
Selanjutnya, tarif yang dipatok untuk satu tudung saji ini tidaklah tinggi. Mengingat proses yang diperlukan dalam pembuatan membutuhkan setidaknya 3-4 hari. Hal tersebut dipengaruhi oleh rumitnya pola dan banyaknya elemen yang digunakan. Adapun tarif yang dipatok berkisar antara 100-200 ribuan. Harga tersebut sebanding dengan nilai seni yang terkandung didalamnya. Tentang akulturasi budaya yang dimanivestasikan dalam bentuk karya.
Lalu bagaimana cara mendapatkan tudung saji karya Siswa SMAN 3 Toboali ini? Caranya cukup mudah. Calon pembeli hanya perlu menghubungi contact person atau datang langsung ke sekolah terkait. Setelah selesai menentukan motif yang diinginkan, dilanjutkan dengan pembayaran DP atau langsung pelunasan. Setelah itu, pembeli akan dihubungi oleh salah satu perwakilan dari sekolah apabila pesanannya sudah jadi.























