BERITABANGKA.COM, JAKARTA – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada November 2024 lalu tak hanya menjadi agenda diplomasi negara. Di belakang pertemuan antar-pemerintah itu, terselip pergerakan penting para pengusaha besar Indonesia yang kerap dijuluki kelompok “9 Naga” yang ikut mengiringi langkah awal pemerintahan baru Prabowo.
Sejumlah tokoh bisnis nasional terlihat hadir dalam rangkaian kunjungan tersebut. Mereka antara lain Prajogo Pangestu (Barito Group), Tomy Winata (Artha Graha), Franky Widjaja (Sinar Mas), dan Boy Thohir (Adaro Energy). Turut serta pula Hashim Djojohadikusumo (Arsari Group), Anindya Bakrie (Bakrie Group), serta Arsjad Rasjid (Indika Energy).
Para pengusaha ini hadir dalam jamuan kenegaraan di Great Hall of the People, Beijing, November 2024 lalu. Kehadiran mereka menegaskan bahwa kunjungan Prabowo bukan semata simbol politik, melainkan juga membawa agenda ekonomi dan investasi yang terjamin.
Arsjad Rasjid menyatakan, kalangan pengusaha Indonesia berkomitmen memperdalam kerja sama dengan mitra Tiongkok. Kolaborasi itu mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari perdagangan hingga investasi jangka panjang. “Kami berkomitmen untuk memperdalam kolaborasi di berbagai sektor demi meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia,” ujar Arsjad seperti mengutip RRI, Kamis 29 Januari 2026.
Menurut Arsjad, pesan Presiden Prabowo cukup jelas adalah kerja sama ekonomi Indonesia Tiongkok harus bersifat saling menguntungkan, bukan hubungan sepihak.
Dalam konteks ini, keterlibatan pengusaha besar dipandang sebagai jembatan antara visi politik pemerintah dan realisasi investasi di lapangan.
Langkah serupa juga ditegaskan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Ketua Umum Kadin, Anindya Bakrie, bersama Ketua Dewan Penasihat Kadin Hashim Djojohadikusumo, bahkan telah lebih dulu tiba di Beijing sebelum kedatangan Prabowo. Kunjungan awal itu bertujuan mempersiapkan sejumlah pertemuan strategis dengan mitra Tiongkok.
Anindya menyebutkan, agenda Kadin diarahkan untuk menjajaki peluang kolaborasi yang dapat mendukung target ambisius pemerintahan Prabowo Gibran, yakni pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Salah satu fokus pembahasan adalah sektor infrastruktur dan perumahan.
Di Beijing, Kadin melakukan pertemuan dengan China Construction Technology Consulting (CCTC) guna mendukung rencana pemerintah membangun tiga juta rumah per tahun. Program perumahan skala besar ini menjadi salah satu agenda prioritas Prabowo dan membutuhkan dukungan investasi serta teknologi konstruksi.
Selain sektor perumahan, rombongan Kadin juga bertemu dengan perusahaan perikanan dan akuakultur terbesar di dunia. Pertemuan ini menandai minat Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengembangkan industri berbasis maritim melalui transfer teknologi dan investasi asing.
Keterlibatan para pengusaha besar dalam kunjungan kenegaraan ini menunjukkan pola lama yang kembali menguat yakni diplomasi ekonomi berbasis jejaring bisnis. Bagi Indonesia, pendekatan ini dinilai pragmatis untuk mempercepat arus investasi, terutama dari Tiongkok yang selama satu dekade terakhir menjadi salah satu mitra dagang dan investor terbesar.
Namun, tantangan ke depan tak kecil. Pemerintah dituntut memastikan bahwa kerja sama yang terjalin benar-benar memberi nilai tambah bagi perekonomian domestik mulai dari penciptaan lapangan kerja, alih teknologi, hingga penguatan industri nasional.
Bagi Prabowo, kunjungan ke Beijing menjadi panggung awal untuk menunjukkan arah kebijakan ekonominya. Sementara bagi para pengusaha, perjalanan ini membuka peluang untuk menyelaraskan kepentingan bisnis dengan agenda pembangunan nasional. Hubungan negara dan pasar kembali bertemu di satu titik: mencari pertumbuhan, dengan risiko dan harapan yang sama-sama besar. (*)








