BERITABANGKA.COM — Kreativitas penambang rakyat di Bangka Selatan bukan kaleng kaleng putar otak. Di tengah tingginya harga bahan bakar minyak (BBM), mereka menemukan cara lain untuk menekan biaya operasional dengan memanfaatkan gas Elpiji 3 kilogram sebagai pengganti BBM pada mesin robin, atau mesin kecil yang digunakan untuk menyedot dan menyemprot air saat menambang.
Cara ini menurut penambang setempat dinilai sebagai bentuk temuan dalam menghemat di tengah keterbatasan ekonomi, sekaligus upaya adaptif menghadapi lonjakan harga BBM.
Biasanya, satu liter pertalite eceran di lapak kaki lima yang kini mencapai harga Rp12.000 hanya mampu digunakan dalam waktu singkat. Sementara itu, satu tabung gas Elpiji 3 kg Subsidi pemerintah dapat bertahan hingga dua hari full untuk aktivitas penambangan.
“Kalau pakai gas jauh lebih irit. Satu tabung bisa dua hari, sedangkan kalau pakai pertalite sehari bisa habis Rp50 ribu,” ujar salah satu penambang, Riko di wilayah Air Gegas, Kamis (16/10/2025).
Menurut para penambang, penggunaan gas Elpiji 3 kg masyarakat miskin tidak hanya lebih hemat, tetapi juga lebih praktis dan mudah diperoleh di pasaran. Meskipun pada awalnya mereka harus memodifikasi sistem bahan bakar pada mesin robin, hasilnya kini terbukti efisien dan ramah di kantong.
Selain itu, dari sisi harga, perbedaan biaya cukup mencolok. Satu tabung gas Elpiji 3 kg di pasaran masih berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp35 ribu, sedangkan BBM jenis pertalite bisa mencapai Rp12 ribu per liter, membuat selisih pengeluaran jauh berbeda.
Meski begitu, sebagian penambang tetap berhati-hati dalam penggunaan gas Elpiji untuk memastikan keamanan di lokasi kerja. Karena dari pemasangan peralatan tersebut tidak melalui uji coba standar keselamatan.
Cara ini sekaligus menunjukkan bagaimana penambang rakyat di Bangka Selatan terus berinovasi di tengah tekanan ekonomi, tanpa kehilangan semangat untuk tetap mencari nafkah dan bertahan hidup dari sektor tambang yang menjadi tumpuan ekonomi keluarga. (*)















