BANGKA BARAT – Sempat jadi perbincangan publik Bangka Barat (Babar), lanjutan perkara dari kasus “pembuang bayi yang dilakukan oleh pelaku yang merupakan oknum anggota kepolisian berinisial Z,” beberapa bulan lalu, kini memasuki tahapan sidang kedua.
Dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Muntok, hadirkan dua saksi kunci untuk dimintai keterangan, Selasa (08/02/2022).
Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menangani perkara tersebut adalah, Kepala Seksi Barang Bukti (Kasi BB) Kejari Babar, Agung Trisa Putra Fadillahburdan didampingi, M.Syaran Jafizhan.
Dalam persidangan menurut pengakuan saksi pertama, M. Satria, mengatakan dirinya tidak mengenali pelaku, serta tidak ada kaitan apapun terhadap pelaku.
“Saya mengerti hadir disini, pada 20 Agustus 2021 lalu, sekitr pukul 07.00 WIB, pagi – pagi waktu itu saya mau pergi kekantor sampai, pada pukul 06.30 wib ada warga menelpon pak wudin, bahwa ada penemuan bayi di Jalan Rumpis, Desa Pelangas,” jelas saksi pertama tersebut.
Berdasarkan laporan masyarakat, Satria langsung bergegas ke tempat kejadian perkara, untuk melakukan pengecekan dan pembuktian langsung guna membenarkan bahwa memang ada bayi malang yang dibuang oleh orang tuanya.
“Saya dikasih tau lokasinya, Jalan Rumpis Desa Pelangas, disitu ada ibu Meri dan warga, sudah ramai, saya lihat pertama kali posisi bayi sudah dirawat ibu dewi. Ada kotak bolesa juga, lihat kondisi bayi sehat, tidak ada luku-luka pada bayinya, setelah itu saya melaporkan ke Polsek selaku pimpinan kami langsung datang juga kelokasi,” katanya.
Pas kejadian dia tidak mengetahui secara pasti, Namun Satria menjelaskan bahwa ia tidak mengetahui siapa pelaku pembuang bayi tersebut, namun setelah beberapa waktu baru mengetahui pelakunya.
“Saya tidak tau siapa yang membuang bayinya, kalau sekarang sudah tau, taunya pas sekitar bulan September tidak lama dari kejadian tersebut bahwa pak Z,” jelasnya.
Namun, bayi saat ditemukan warga, Satria menjelaskan posisinya dipinggir Jalan aspal masuk di sebuah jalur lalu lintas (jalan gang, red) sekitar 10 meter, jalan tersebut sering dilalui masyarakat, dan kondisi cuaca cerah tidak ada hujan.
“Saat ini saya sudah tau orang tuanya, salah satu anggota Polri di Bangka Barat, kenapa membuangnya saya tidak tau, sebelum peristiwa ini saya sudah mengenalnya, saya tidak tau sudah nikah atau belum,” beber Satria.
“Kondisi kardus terbuka, penutup di lipat kedalam, untuk olah TKP saya kurang paham kalau kasus-kasus seperti ini ditangani Satreskrim, saya tidak paham.
Saya tidak menanyakan sama pelaku, kenapa membuang bayinya, untuk bayi saat ini tidak tau,” terangnya.
Sementara, saksi kedua atas nama Meri Puspita Dewi (41) mengatakan, ia juga tidak mengenali dan tidak ada hubungan keluarga dengan pelaku.
“Tepatnya setengah 07.00 (pagi, red), ada warga datang kerumah, namanya saya tidak tau, cuma warga datang kerumah. Tanpa pikir panjang saya langaung kesitu untuk mengecek bayinya, sampai ditempat sudah ada anggota polisi lainnya, kondisi bayi bajunya basah semua karena sudah kencing, dan bayi sudah diangkat warga, untuk cuaca cerah cuma abis ujan gitu,” kata Meri.
Meri mengungkapkan untuk kondisi bayi saat ditemukan sehat, hanya saja ada cedera ditubuhnya lantaran kedinginan, dengan kondisi didalam kardus.
“Dikardus sudah ada susu dan baju-baju cuma tidak ada dot, saya juga membersihkan kotorannya. Terus saya naik mobil kepolisian untuk membawa bayi tersebut ke Pukesmas, Simpang Teritip,” terangnya
“Jarak rumah saya tidak jauh sekitar 10 sampai 5 menit, menggunakan motor kelokasi tersebut. Kondisi cuaca pada malam hari saya tidak ingat kalau ujan cuma cuacanya ngembun dan agak dingin, bayi kondisi berwarna biru, setelah di rawat dikasih susu sehat,” katanya.
Menurut Meri penemuan posisi bayi tidak jauh dari Jalan, tepat didekat musholah dan tidak jauh dari permukiman warga, serta jalan itupun sering dilewati masyarakat umum.
“Bayi cuma di tutupi selimut, sampai sekarang saya tidak tau bayi siapa, bayi itu menggunakan pakaian dan saya masih ingat dengan BBnya ada Popok, Baju, Kain, Gurita dan dengan foto bayi juga masih ingat, bayi itu perempuan, kalau tanda lahir saya tidak liat, hanya ada cap warna biru dikakinya tandanya bayi itu lahirnya ditempat kesehatan antara Pukesmas, di klinik atau di rumah sakit,” jelasnya.
“Kalau tidak ditemukan langsung, apa lagi kalau kondisi hujan bisa meninggal bayi itu, apa lagi kondisi masih 2 hari. Bahkan bisa dimakan binatang seperti anjing juga kalau tidak ditemukan warga,” bebernya.
Dengan pasrah Pelaku pembuang bayi itu membenarkan atas apa yang sudah diterangkan oleh kedua saksi tersebut.
“Keterangan saksi betul semua,” Kata Z ayah sang bayi malang.








