Perampok Anggaran Satpol PP ke Jeruji Besi: Drama Tangis Keluarga Koruptor Bangka Selatan

banner 468x60

BERITABANGKA.COM – Satu tahun bersenang-senang dengan uang hasil merampok negara akhirnya berakhir tragis bagi tiga pejabat ASN dan pengusaha lokal di Bangka Selatan.

Mereka kini bukan lagi duduk di balik meja kantor, melainkan di balik jeruji besi Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangka Selatan.

Kasus ini mencuat setelah penyidik mengendus adanya kegiatan fiktif di tubuh Satpol PP.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Anggaran rutin yang seharusnya dipakai untuk operasional justru mengalir ke kantong pribadi.

Jumlahnya tak tanggung-tanggung, mencapai hampir setengah miliar rupiah hanya dalam hitungan setahun.

Mereka yang terjerat adalah Hasbi, Plt Kasat Pol PP, Rudi, PPK yang disebut-sebut mahir menyulap laporan fiktif, Sandi, bendahara yang mengalirkan dana, serta Yopi, bos CV Yoga Umbara, perusahaan lokal yang dipakai untuk memuluskan aksi fiktif atau ngerampok uang negara di Satpol-PP Bangka Selatan.

Jurus Lama Rudi Perampok di Satpol PP

Rudi disebut-sebut sudah lama bermain dalam skema manipulasi anggaran.

Kepiawaiannya membuat laporan pertanggungjawaban yang terlihat “resmi” membuat aksinya mulus berjalan.

Namun jurus lama itu tak lagi ampuh ketika penyidik kejaksaan turun tangan.

Kepala Kejari Bangka Selatan, Sabrul Iman, menyatakan para tersangka terbukti menyiapkan dokumen fiktif sebagai laporan kegiatan.

Dari praktik itu, Yopi mendapatkan imbalan 2,5 persen dari nilai proyek, sementara Rudi menjanjikannya proyek lanjutan di Satpol PP.

Tangis Histeris dan Minta Alok di Kejari

Di balik keseriusan proses hukum, ada hal unik yang menyita perhatian. Saat keempat tersangka digiring ke mobil tahanan, keluarga mereka menangis meraung-raung, memohon agar orang-orang terkasihnya tidak ditahan. “Memalukan”

Tangisan itu menciptakan kontras di satu sisi, ada penderitaan keluarga yang sebelumnya ikut menikmati hasil merampok, di sisi lain, ada kerugian rakyat akibat uang negara digerogoti oleh perampok.

Publik pun menilai adegan itu lebih mirip drama telenovela murahan ketimbang upaya mencari keadilan.

Bagaimanapun, simpati masyarakat sulit terbangun ketika yang ditangisi justru mereka yang disebut sebagai pejabat perampok uang rakyat.

Setahun Menikmati, Seumur Hidup Menanggung

Keempat tersangka kini resmi mendekam di Lapas II Pangkalpinang. Perjalanan mereka dari ruang rapat Satpol PP ke balik jeruji seakan menjadi pelajaran bahwa uang haram tidak pernah bertahan lama.

Hanya dalam setahun, setengah miliar rupiah hasil korupsi habis begitu saja.

Sementara sanksi sosial dan ancaman hukuman penjara masih menanti.

Kejahatan kerah putih tidak pernah benar-benar aman. Jaksa selalu punya cara untuk membongkar, dan masyarakat selalu punya mata untuk mengawasi “ingat itu”. (*)

Admin
Author: Admin

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60