Dalam upaya pencegahan, Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Bangka Selatan secara aktif menggalakkan kampanye edukasi dan sosialisasi mengenai kesehatan reproduksi. Kampanye ini juga menekankan bahaya pergaulan bebas yang dapat meningkatkan risiko penyebaran HIV/AIDS. DKPPKB Basel berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan mencegah perilaku berisiko. Melalui program-program ini, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.
BERITABANGKA.COM — Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan kini meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran penyakit HIV/AIDS yang menunjukkan peningkatan cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Data dari Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Bangka Selatan mengungkapkan bahwa kasus baru mulai bermunculan dan memerlukan perhatian serius dari masyarakat serta berbagai pihak terkait.
Kepala DKPPKB Bangka Selatan, dr. Agus Pranawa, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus HIV banyak disebabkan oleh pola hidup bebas dan perilaku seksual berisiko tinggi. Ia menyebutkan bahwa kelompok rentan penularan antara lain remaja dan komunitas LGBT yang kerap berganti pasangan tanpa penggunaan alat pelindung diri.
“Dari hasil pengamatan kami, kelompok yang aktif secara seksual tanpa proteksi menjadi yang paling rawan. Perilaku berpindah pasangan membuat risiko penularan semakin tinggi,” jelas dr. Agus, Ahad (19/10/2025).
Menurutnya, tren “open BO” atau booking online yang marak di kalangan muda juga berkontribusi terhadap penyebaran virus. Aktivitas tersebut menimbulkan potensi penularan HIV kepada siapa pun, termasuk mereka yang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.
“Banyak orang baru menyadari terinfeksi HIV setelah kondisinya menurun. Pada tahap awal, gejalanya tidak tampak, sehingga virus ini sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, DKPPKB Bangka Selatan terus menggalakkan kampanye edukasi dan sosialisasi seputar kesehatan reproduksi dan bahaya pergaulan bebas, khususnya kepada pelajar dan generasi muda. Edukasi ini diharapkan mampu mengubah pola pikir dan perilaku agar masyarakat lebih waspada terhadap risiko HIV/AIDS.
“Penanganan HIV tidak bisa hanya mengandalkan pengobatan, tapi juga harus dimulai dari edukasi. Anak-anak muda harus sadar bahaya seks bebas dan menjaga diri sejak dini,” tegas dr. Agus.
Selain sosialisasi, DKPPKB juga memperkuat layanan pemeriksaan dan konseling HIV (VCT) di seluruh fasilitas kesehatan daerah. Masyarakat dengan risiko tinggi diimbau untuk memanfaatkan layanan ini agar dapat segera memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat.
dr. Agus menambahkan bahwa keberhasilan pencegahan HIV/AIDS membutuhkan kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua diharapkan mampu membangun komunikasi terbuka dengan anak-anak agar mereka memahami risiko dan tidak mudah terjerumus dalam pergaulan berisiko.
“Peran orang tua sangat penting. Komunikasi yang terbuka dan pengawasan yang bijak dapat melindungi anak-anak dari perilaku berisiko,” tutupnya.
Kasus HIV/AIDS di Bangka Selatan menjadi peringatan bahwa kesadaran, edukasi seksual yang benar, dan gaya hidup sehat merupakan langkah utama dalam mencegah penyebaran virus berbahaya ini. Pemerintah berharap seluruh masyarakat berperan aktif dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungan sosial. (*)














