Jasad Zainal Terbujur Kaku dibawah Pohon Sawit

banner 468x60

BERITABANGKA.COM – Suasana Dusun Lingkun, Desa Penyampak, Kecamatan Tempilang, Bangka Barat, mendadak berubah mencekam pada Minggu petang, 15 Juni 2025. Warga setempat dikejutkan dengan penemuan sesosok jasad pria yang terbujur kaku di bawah pohon sawit. Sosok tersebut tak lain adalah Zainal bin Barni (37), seorang warga desa yang dikenal sebagai pencari ular untuk dijual.

Penemuan yang menghebohkan itu bermula saat sepasang suami istri, Jum’ah (55) dan Manti (64), tengah melintasi kebun sawit milik warga bernama Pili sekitar pukul 16.30 WIB. Niat awalnya hanya untuk berjalan sore, namun langkah mereka terhenti ketika melihat tubuh seseorang tergeletak tak bergerak di bawah pohon sawit.

“Saya lihat dari jauh ada orang telentang, saya kira pingsan atau tidur. Tapi begitu didekati, saya kaget, ternyata Zainal. Sudah tidak bernyawa,” tutur Jum’ah dengan nada bergetar. Manti, suaminya, segera membantu memanggil warga lain dan melaporkan ke pihak desa.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Perburuan yang Berujung Maut

Zainal bukan nama asing di wilayah itu. Ia dikenal sebagai sosok yang ulet dan pemberani, meski pekerjaannya tak lazim. Dalam kesehariannya, ia berburu ular liar di hutan dan perkebunan, lalu menjualnya ke pengepul yang biasa memasok untuk keperluan obat, konsumsi, atau hewan peliharaan.

Terakhir kali Zainal terlihat hidup adalah pada Jumat malam, 13 Juni 2025. Ia sempat nongkrong dan berbincang santai bersama seorang temannya, Kosasim, di sebuah pondok kebun. Malam itu, ia pamit untuk beristirahat dan menyampaikan niatnya melanjutkan pencarian ular keesokan harinya.

Namun esoknya, tak ada kabar darinya. Bahkan hingga Sabtu sore, Zainal tak juga kembali. Kekhawatiran mulai muncul ketika sepupunya, Kasani, menemukan motor Zainal di dekat pondok dalam keadaan mesin masih hangat. Di sana pula ditemukan dua karung berisi ular hasil tangkapan. Namun Zainal tak tampak di mana pun.

Merasa ada yang tidak beres, warga pun berinisiatif melakukan pencarian. Upaya itulah yang kemudian menemukan tubuh Zainal, dalam kondisi telah membusuk, tak jauh dari aliran bandar kebun.

Tewas Diduga Akibat Gigitan Ular Berbisa

Mendapat laporan dari warga, pihak Polsek Tempilang bersama tim medis dari Pustu Desa Penyampak langsung turun ke lokasi. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan adanya dua bekas luka gigitan di bawah mata kaki kanan korban.

“Kondisi tubuh korban menunjukkan tanda-tanda kematian yang sudah terjadi dua hari sebelumnya. Dugaan kuat, korban meninggal akibat gigitan ular berbisa saat beraktivitas di kebun,” jelas Iptu Yos Sudarso, PS. Kasi Humas Polres Bangka Barat, mewakili Kapolres AKBP Pradana Aditya Nugraha.

Posisi jenazah juga cukup mencerminkan penderitaan yang dialami korban. Zainal ditemukan dalam keadaan telentang, dengan kaki kiri tertekuk dan kepala bersandar pada tunggul kayu, seolah berusaha beristirahat atau mungkin sempat merasa pusing dan lemas sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Namun demikian, pihak keluarga memilih untuk tidak dilakukan visum atau autopsi. Mereka menerima kejadian itu sebagai musibah dan segera memakamkan jenazah dengan upacara sederhana.

Risiko Profesi yang Jarang Disadari

Kematian Zainal menyisakan duka mendalam bagi warga Dusun Lingkun. Sosoknya dikenal ramah dan rendah hati, serta sangat tekun bekerja. Meskipun pekerjaannya terbilang ekstrem dan berisiko, Zainal menjalaninya dengan serius.

“Dia orangnya nggak banyak bicara, tapi kalau kerja, sungguh-sungguh. Nggak nyangka akhirnya begini,” ujar Samin, tetangganya.

Profesi sebagai pencari ular memang jarang digeluti, namun ada permintaan pasar yang terus mendorong orang seperti Zainal menantang bahaya di hutan dan kebun. Tidak sedikit dari mereka yang harus berhadapan langsung dengan spesies ular berbisa seperti ular weling, kobra, atau ular tanah.

Sayangnya, tak banyak pencari ular yang melengkapi diri dengan perlengkapan keselamatan seperti sepatu anti-bisa, tongkat penangkap, atau alat komunikasi darurat. Sebagian besar hanya mengandalkan keahlian dan insting semata.

Tragedi yang Menjadi Pengingat

Peristiwa yang menimpa Zainal seakan menjadi pengingat keras bagi siapa pun yang bekerja di lingkungan liar. Bahwa ancaman bisa datang kapan saja, bahkan saat seseorang sedang melakukan pekerjaan rutinnya.

Kepala Desa Penyampak, Saparudin, juga turut menyampaikan rasa duka dan imbauan kepada masyarakat. “Kami kehilangan satu warga yang selama ini dikenal baik. Kami juga imbau warga yang beraktivitas di kebun untuk lebih berhati-hati dan tidak sendirian, apalagi saat menjelang sore,” ujarnya.

Kematian Zainal memang tragis, namun ia juga mengangkat sebuah isu penting tentang keamanan kerja di sektor informal dan liar. Profesi yang bersinggungan langsung dengan alam, seperti pemburu ular, pemanen madu hutan, atau penambang tradisional, seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari sisi keselamatan dan edukasi risiko.

Di sisi lain, kisah Zainal menjadi kisah yang penuh pelajaran bahwa keberanian tanpa perlindungan bisa berakhir dengan kehilangan nyawa yang menyakitkan. Warga Dusun Lingkun kini tak hanya kehilangan sosok pekerja keras, namun juga diingatkan bahwa alam, seindah dan seberkah apa pun, tetap menyimpan bahaya yang tak bisa dianggap remeh. (*)

Admin
Author: Admin

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60