Jangan Senang dulu Pengguna AI, Pakar TI Indonesia Ungkap Tetap Verifikasi Kebenaran

banner 468x60

BERITABANGKA.COM – Belakangan ini, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) seolah menjadi “asisten pribadi” sejuta umat.

Mulai dari membantu menyelesaikan laporan kantor, menyusun strategi bisnis, hingga membantu anak sekolah memecahkan soal matematika yang rumit.

Kehadirannya memang mendominasi, menawarkan kemudahan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Namun, di balik kecepatan kilatnya dalam menyajikan jawaban, muncul satu pertanyaan besar.

Apakah AI selalu benar?

AI dan Fenomena “Halusinasi” Digital

Jangan terburu-buru senang jika tugas Anda selesai dalam hitungan detik.

Faktanya, teknologi AI tetap memiliki celah kesalahan.

Dalam dunia teknologi, dikenal istilah AI Hallucination atau halusinasi AI.

Ini adalah kondisi di mana AI memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, padahal data tersebut salah total atau sekadar “karangan” mesin.

Salah satu pakar TI Mahmud Ryan dari kampus ITB mengemukakan pengguna AI dengan kemudahannya memberi jawaban yang diambil oleh algoritma mereka terkadang memiliki jawaban kurang pantas dan memiliki irama bahasa datar atau lebih dikenal bahasa robot.

“Kendali kita sendiri, yang memiliki nalar, jangan langsung percaya oleh data AI. Kadang algoritma mereka mengambil sumber yang tidak valid sehingga menimbulkan kebingungan, jadi AI tetap hanya sebagai pelengkap pekerjaan saja bukan menjadi tuhan teknologi,” ujar Ryan kepada InfobangkaID beberapa waktu lalu dalam diskusi TI di Pangkalpinang.

Bagi pelajar, mengandalkan AI tanpa verifikasi bisa menjadi senjata makan tuan.

Hasil yang melenceng dari maksud sebenarnya bukan hanya menyesatkan secara akademik, tetapi juga menumpulkan daya kritis manusia termasuk fakta.

Teknologi, jika salah dalam menyikapinya, justru akan menjadi jalan pintas yang menjerumuskan.

Pentingnya Filter Manusia

Untuk itu dalam memproduksi atau mengonsumsi informasi di era digital, kita harus menerapkan standar E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, and Trustworthiness).

Lantas untuk apa itu?

Experience & Expertise: AI tidak memiliki pengalaman hidup. Ia hanya mengolah data yang sudah ada. Keahlian yang ditanamkan tetap ada pada manusia yang memahami konteks dan maksud yang dibahas.

Authoritativeness & Trust: Informasi yang valid harus datang dari sumber yang memiliki otoritas, bukan sekadar algoritma yang merangkai kata sehingga menghasilkan jawaban menyesatkan.

Kita perlu memosisikan AI sebagai alat bantu (tool), bukan sebagai sumber kebenaran mutlak. Verifikasi data dan kebenaran tetap menjadi hal penting dalam memastikan kredibilitas sebuah informasi.

Teknologi vs Penguasa Langit Bumi

Canggihnya AI adalah bukti kehebatan akal manusia yang mampu menciptakan inovasi luar biasa.

Namun, secanggih apa pun sistem coding dan jaringan syaraf tiruan yang dibangun manusia, ia tetap memiliki batasan.

Ada dimensi moral, empati, dan kebijaksanaan yang tidak akan pernah dimiliki oleh barisan kode komputer.

Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sehebat-hebatnya buatan manusia, ciptaan Tuhan—yaitu akal dan hati nurani manusia itu sendiri—jauh lebih sempurna.

Manusia adalah pengendali teknologi, bukan sebaliknya.

Kendati demikian menyikapi fenomena AI memerlukan kebijaksanaan.

Manfaatkan teknologinya untuk produktivitas, namun tetap gunakan nalar untuk melakukan validasi.

Jangan sampai kemudahan digital membuat kita kehilangan ketelitian.

Ingat, teknologi adalah pelayan yang baik, tetapi bisa menjadi tuan yang menyesatkan jika kita kehilangan kendali atasnya. (*)

Pos terkait

banner 468x60