BERITABANGKA.COM, KUDUS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto kembali mengingatkan pentingnya aspek keamanan dan kehigienisan pangan. Di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sedikitnya 118 pelajar dan tenaga pendidik harus menjalani perawatan medis akibat dugaan keracunan makanan dari menu MBG.
Kasus ini menjadi peringatan di sektor kesehatan masyarakat, terutama terkait pengawasan keamanan makanan dalam program berskala besar yang menyasar kelompok rentan seperti anak sekolah.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari selaku penyelenggara program menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat. Kepala SPPG Purwosari, Nasihul Umam, menegaskan kesiapan pihaknya untuk bertanggung jawab penuh atas dampak yang ditimbulkan.
“Kami siap bertanggung jawab penuh, termasuk mengganti biaya pengobatan siswa yang terdampak. Kami juga memohon maaf dan meminta masyarakat bersabar menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya seperti dikutip media ini, Minggu 1 February 2026.
Gejala Awal hingga Penanganan Medis
Peristiwa ini pertama kali terungkap setelah pihak SMA Negeri 2 Kudus melaporkan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan berupa diare, nyeri perut, hingga satu siswa yang harus dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim SPPG yang terdiri dari staf, ahli gizi, akuntan, hingga asisten laboratorium langsung mendatangi sekolah untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi. Menu MBG yang dikonsumsi saat itu diketahui berupa soto ayam suwir, tempe, dan tauge.
“Kami langsung turun ke sekolah, meminta maaf, serta memastikan siswa yang mengalami diare mendapatkan obat. Untuk yang dirawat di IGD, biaya pengobatan kami tanggung,” jelas Nasihul.
Namun situasi berkembang cepat. Setelah audiensi singkat dengan pihak sekolah dan perwakilan siswa, jumlah pelajar yang mengeluhkan sakit perut terus bertambah. Petugas puskesmas dan ambulans pun diterjunkan ke sekolah, sementara korban dirujuk ke sejumlah rumah sakit di Kudus.
ALIBI Menunggu Hasil Laboratorium
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG. Nasihul menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan sumber masalah sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar.
Dari sisi komposisi, menu MBG untuk jenjang SMA disebut telah disesuaikan dengan standar gizi, yakni mengandung energi sekitar 680,4 gram, lemak 26,8 gram, protein 33,2 gram, dan karbohidrat 78,7 gram, serta dilengkapi sambal kecap.
SPPG Purwosari sendiri saat ini melayani 13 sekolah dengan total penerima manfaat sebanyak 2.173 orang, termasuk guru dan tenaga kependidikan.
Keamanan Pangan Patokan Program Gizi
Kasus di Kudus menjadi pengingat bahwa kandungan gizi tinggi tidak otomatis aman jika aspek higienis dan pengawasan pangan lemah. Dalam program makanan massal, risiko kontaminasi bakteri, kesalahan penyimpanan, hingga distribusi yang tidak sesuai standar dapat berakibat fatal.
Para ahli kesehatan menilai, pengawasan berlapis mulai dari bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi harus menjadi prioritas agar program gizi tidak justru menimbulkan masalah kesehatan baru.
Hingga Kamis (29/1) petang, total 118 orang tercatat menjalani perawatan di tujuh rumah sakit, yakni RSUD Loekmono Hadi Kudus, RS Mardi Rahayu, RS Sarkies Aisyiyah, RSI Kudus, RS Kumala Siwi, RS Kartika, dan RS Aisyiyah.
Kejadian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi nasional agar program MBG tetap berjalan sesuai tujuan awalnya yaitu meningkatkan kesehatan dan kualitas generasi muda, bukan sebaliknya. (*)









