Angka Pecandu Judol di Toboali Hampir 40 Persen

Ketika Judi Online Jadi Gaya Hidup Baru, Pertanda Krisis Sosial di Bangka Selatan Sedang Berlangsung

BERITABANGKA.COM, TOBOALI – Judi online atau yang akrab disebut Judol perlahan berubah dari sekadar hiburan digital menjadi kebiasaan yang mengkhawatirkan di Bangka Selatan, khususnya di Kota Toboali. Fenomena ini tak lagi mengenal usia. Dari remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia, arus judi online seolah mengalir bebas dan masuk ke ruang-ruang privat kehidupan masyarakat.

Di warung kopi, di rumah, bahkan di sela waktu kerja, ponsel pintar kini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga “meja taruhan” yang selalu siap dimainkan. Sekali menang, rasa euforia muncul. Sekali kalah, muncul dorongan untuk terus bermain demi menutup kerugian. Di titik inilah judol berubah dari permainan menjadi candu.

Tak sedikit warga yang akhirnya terjerat masalah hukum akibat kecanduan judi online. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian pelaku melampiaskan tekanan psikologis dan kerugian finansial ke perilaku berisiko lain, termasuk penyalahgunaan narkoba. Lingkaran ini membentuk pola baru masalah sosial yang saling terkait dan sulit diputus.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Selatan mencatat hampir 40 persen warga terindikasi mengalami ketergantungan judi online. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata dampak judol terhadap kesehatan mental masyarakat.

Ketergantungan judi online sering kali memicu gangguan kecemasan, stres berkepanjangan, hingga depresi. Dalam banyak kasus, penderita tidak menyadari bahwa mereka telah berada pada fase adiksi, karena judi online kerap dibungkus dengan tampilan permainan yang ringan dan menjanjikan keuntungan instan.

Psikolog dan tenaga kesehatan menilai, judol bekerja seperti “dopamin palsu”. Otak terus dipacu untuk mencari sensasi menang, meski realitanya lebih sering kalah. Ketika uang habis, emosi ikut runtuh. Relasi keluarga terganggu, produktivitas menurun, dan konflik sosial pun tak terhindarkan.

Dari Masalah Pribadi Menjadi Gaya Hidup Keliru

Yang membuat fenomena ini kian mengkhawatirkan adalah me-normalisasi judi online dalam kehidupan sehari-hari. Di media sosial, judol sering dipromosikan secara terselubung. Di lingkungan pertemanan, cerita menang besar lebih sering dibagikan ketimbang kisah jatuh bangkrut.

Tanpa disadari, judi online mulai dipersepsikan sebagai bagian dari gaya hidup modern yakni cepat, digital, dan penuh sensasi. Padahal, banyak keluarga di Bangka Selatan harus menghadapi kenyataan pahit akibat kecanduan ini berujung utang menumpuk, kepercayaan hilang, dan masa depan anak-anak terancam.

Fenomena judi online tidak hanya persoalan hukum saja, tetapi juga persoalan gaya hidup dan kesehatan masyarakat. Upaya penindakan memang penting, namun tidak cukup tanpa edukasi dan pendampingan psikososial.

Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga keluarga memiliki peran strategis dalam memutus rantai kecanduan judol. Literasi digital, edukasi keuangan, serta ruang konseling yang mudah diakses menjadi kebutuhan mendesak.

Bagi masyarakat Toboali dan Bangka Selatan secara umum, judi online bukan lagi isu jauh di luar sana. Ia ada di sekitar, dekat, dan nyata. Kesadaran untuk berkata “cukup” hari ini bisa menjadi penyelamat untuk masa depan yang lebih sehat secara mental, sosial, dan ekonomi. (*)

Bali adalah Tanah Keramat Indonesia

BERITABANGKA.COM – Bali selalu punya tempat istimewa di hati banyak orang. Bukan semata karena pantai dan keindahan alamnya, melainkan karena pulau ini sejak lama diyakini sebagai tanah yang dikeramatkan para leluhur. Dari gunung hingga laut, dari pura hingga pekarangan rumah warga, semua memiliki makna spiritual yang dijaga turun-temurun.

Bagi orang Bali, alam bukan sekadar ruang hidup, tetapi bagian dari keyakinan. Setiap jengkal tanah dipercaya memiliki roh penjaga. Inilah sebabnya tradisi dan adat istiadat di Bali masih bertahan kuat, bahkan di tengah derasnya arus modernisasi.

Tradisi Sakral yang Menjadi Penjaga Toleransi

Kesakralan Bali tidak menjadikannya tertutup. Justru sebaliknya, nilai adat dan budaya lokal menjadi fondasi kuat terciptanya toleransi antar umat beragama. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Bali hidup berdampingan dengan warga pendatang dari berbagai latar belakang keyakinan.

Upacara adat Hindu dapat berlangsung tanpa mengganggu aktivitas ibadah agama lain. Tetua kampung dan desa adat berperan sebagai penjaga harmoni, memastikan tradisi tetap dijalankan tanpa meniadakan keberagaman.

Nilai inilah yang jarang terlihat oleh wisatawan, Bali bukan hanya ramah secara pariwisata, tetapi juga matang secara sosial dan budaya.

Ketika Wisata Asing Datang Tanpa Henti

Seiring waktu, Bali menjelma menjadi magnet wisata dunia. Ribuan hingga jutaan wisatawan asing datang setiap tahun, membawa dampak ekonomi yang besar. Hotel, restoran, vila, dan usaha pariwisata tumbuh pesat, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.

Namun di balik geliat ekonomi itu, muncul tantangan yang tak kecil. Pola hidup modern mulai memengaruhi cara pandang generasi muda Bali. Profesi tradisional perlahan ditinggalkan, digantikan sektor pariwisata yang menjanjikan penghasilan cepat.

Tak hanya itu, interaksi intens dengan budaya luar turut menggeser nilai-nilai adat yang selama ini dijunjung tinggi.

Tradisi, Antara Bertahan dan Berubah

Sebagian ritual adat kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana spiritual, tetapi juga tontonan wisata. Pura yang dahulu sunyi dan sakral, kini sering dipadati wisatawan dengan kamera dan ponsel pintar.

Etika berpakaian, tata krama, hingga larangan adat kerap dilanggar karena minimnya pemahaman wisatawan terhadap nilai lokal. Kondisi ini memunculkan kegelisahan di kalangan tokoh adat dan masyarakat Bali sendiri.

Perubahan memang tidak bisa dihindari, namun ketika adat mulai menyesuaikan diri demi kepentingan pasar, identitas budaya menjadi taruhannya.

Peran Desa Adat Menjaga Jati Diri Bali

Di tengah tantangan tersebut, desa adat masih menjadi benteng utama penjaga budaya Bali. Aturan adat, sanksi sosial, dan kesepakatan bersama terus diperkuat agar pariwisata tidak melampaui batas kesakralan.

Pemerintah daerah pun didorong untuk tidak hanya mengejar angka kunjungan wisata, tetapi juga memastikan keberlanjutan budaya dan lingkungan. Pariwisata berbasis kearifan lokal menjadi kunci agar Bali tidak kehilangan ruhnya.

Wisatawan pun memiliki peran penting: datang bukan sekadar menikmati keindahan, tetapi juga menghormati nilai yang hidup di dalamnya.

Bali adalah identitas, warisan, dan amanah leluhur yang dijaga lintas generasi. Tradisi yang dikeramatkan terbukti mampu menciptakan toleransi dan harmoni sosial yang kuat.

Arus wisata dunia boleh datang silih berganti, namun selama adat tetap menjadi penuntun, Bali diyakini mampu bertahan tanpa kehilangan jati diri.

Sebab, kekuatan Bali sejatinya bukan pada ramainya wisatawan, melainkan pada tradisi yang terus hidup di tengah perubahan zaman. (Ai)

HUT ke-23 Bangka Selatan: Bupati Riza Herdavid Ajak Lanjutkan Estafet Pembangunan Para Pendahulu

BERITABANGKA.COM – Momen peringatan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Bangka Selatan tahun 2026 menjadi ajang refleksi mendalam bagi seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat.

Bupati Bangka Selatan, H. Riza Herdavid, S.T., M.Tr.IP., mengingatkan bahwa kemajuan yang dinikmati hari ini adalah buah dari kerja keras para tokoh pendahulu daerah berjuluk Negeri Junjung Besaoh tersebut.

Riza Herdavid menegaskan bahwa tugas generasi saat ini adalah menjaga dan meneruskan warisan perjuangan tersebut ke arah yang lebih baik.

Melanjutkan Pembangunan yang Berkeadaban

Dalam penyampaiannya, Bupati Riza Herdavid mengajak semua pihak untuk menundukkan kepala sejenak dan menghargai sejarah panjang pembentukan Kabupaten Bangka Selatan.

“Peringatan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Bangka Selatan ini menjadi momentum untuk mengingat kembali bahwa setiap capaian pembangunan yang kita raih hari ini merupakan hasil kerja keras para pendahulu kita,” ujar Bupati Riza Herdavid.

Ia juga menambahkan bahwa tongkat estafet pembangunan kini berada di tangan masyarakat dan pemerintah daerah yang sekarang sedang menjabat.

Tujuan Membawa Bangka Selatan menjadi daerah yang unggul.

Target Capaian Menciptakan wilayah yang adil, makmur, lestari, dan berkeadaban.

Inspirasi dan Motivasi untuk Terus Berbenah

Lebih lanjut, Bupati tidak ingin peringatan hari jadi ini hanya berlalu sebagai kegiatan seremonial tahunan belaka. Pria berkacamata itu menuntut adanya aksi nyata dan peningkatan kinerja dari seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat.

“Peringatan hari jadi ini harus menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi seluruh elemen untuk terus bekerja dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Bangka Selatan sebagai wujud rasa syukur dan penghormatan kepada para pendahulu,” tegasnya.

Pernyataan ini diharapkan mampu memicu semangat baru bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan warga untuk terus berinovasi demi kemajuan Bangka Selatan di masa depan. (*)

Hari Jadi Basel Ke 23 Tahun Bekecak

BERITABANGKA.COM – Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan resmi gelar upacara peringatan Hari Jadi ke-23 Kabupaten Bangka Selatan pada Selasa (27/1/2026). Mengusung tema khas daerah “BEKECAK” (Behame Kite Pacak), upacara yang berlangsung di Halaman Perkantoran Bupati Bangka Selatan ini berjalan dengan sangat khidmat.

Bupati Bangka Selatan, H. Riza Herdavid, S.T., M.Tr.IP., bertindak langsung sebagai Inspektur Upacara dalam momen bersejarah bagi daerah berjuluk Negeri Junjung Besaoh tersebut.

Arti Penting Tema ‘BEKECAK’ bagi Bangka Selatan

Dalam amanatnya, Bupati Riza Herdavid menekankan bahwa pemilihan tema “BEKECAK” bukan sekadar slogan tanpa makna. Akronim dari Behame Kite Pacak (Bersama Kita Bisa) ini menjadi pengingat kuat bagi seluruh elemen masyarakat dan jajaran pemerintahan.

Berikut adalah poin penting yang ditekankan Bupati terkait makna tema tahun ini:

Menjaga Persatuan: Menjadi fondasi utama dalam menghadapi berbagai tantangan daerah.

Mempererat Kebersamaan: Mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling merangkul.

Meningkatkan Kolaborasi: Kerja sama lintas sektor demi mempercepat pembangunan daerah.

“Tema BEKECAK ini mengandung makna mendalam sebagai pengingat kita semua untuk senantiasa menjaga persatuan, kebersamaan, serta kolaborasi dalam memajukan daerah yang kita cintai ini,” ujar Riza Herdavid di hadapan para peserta upacara.

Peringatan Hari Jadi ke-23 ini diharapkan menjadi momentum titik balik bagi Kabupaten Bangka Selatan untuk terus berinovasi dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat luas. (*)

Program Kemunting PT Timah Tbk Telah Berlangsung Tahunan di Lingkar Tambang

PT Timah Tbk Bangun Ketahanan Gizi Keluarga Lewat Program Kemunting di Wilayah Lingkar Tambang

BERITABANGKA.COM – Upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan tetap terlaksana dalam waktu jangka panjang. Hal inilah yang menjadi dasar PT Timah Tbk menghadirkan Program Kegiatan Menurunkan Stunting (Kemunting), sebuah inisiatif sosial yang difokuskan pada penguatan gizi keluarga dan peningkatan kualitas kesehatan ibu serta anak di wilayah lingkar tambang.

Program Kemunting dikembangkan sebagai pendekatan edukatif dan berkelanjutan, tidak hanya berorientasi pada bantuan langsung, tetapi juga pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang. Beragam kegiatan dijalankan, mulai dari edukasi kesehatan, pemberian makanan tambahan, layanan pemeriksaan kesehatan, hingga pelatihan pengolahan pangan bergizi berbasis potensi lokal.

Sejak diluncurkan pada tahun 2023, Kemunting menjadi bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT TIMAH Tbk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Program ini menyasar kelompok rentan stunting, seperti ibu hamil, balita, pelajar, serta kader kesehatan yang berperan langsung mendampingi masyarakat.

Melalui program ini, PT TIMAH Tbk mendorong keluarga agar mampu membangun kemandirian dalam pemenuhan gizi, sebagai pondasi menciptakan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas menuju visi Indonesia Emas 2045.

Untuk memastikan program berjalan efektif dan berbasis pengetahuan, PT TIMAH Tbk menggandeng AIMI Bangka Belitung (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Babel) sebagai mitra edukasi. Selain itu, sinergi juga dilakukan dengan pemerintah daerah, kelompok masyarakat, serta BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung guna memperkuat upaya percepatan penurunan stunting.

Pada tahun 2024 kemarin, implementasi Program Kemunting dilaksanakan di sejumlah desa di Kabupaten Bangka dan Bangka Selatan, antara lain Tanjung Ratu, Rebo, Ria, Riding Panjang, Paku, Lumut, dan Cupat. Kegiatan difokuskan pada peningkatan asupan gizi ibu dan anak, sekaligus membangun kesadaran masyarakat tentang pencegahan stunting sejak usia dini.

Memasuki tahun 2025 jangkauan program diperluas dengan berbagai kegiatan lanjutan. Di antaranya edukasi pencegahan stunting bagi pelajar di Asrama Pemali Boarding School, pelatihan pengolahan makanan sehat berbasis pangan lokal bagi ibu-ibu di Lingkungan Nelayan II Sungailiat, serta peningkatan kapasitas kader pendamping kesehatan di wilayah Sungai Selan.

PT TIMAH Tbk juga menyalurkan paket makanan tambahan bagi anak-anak yang teridentifikasi mengalami stunting serta berkolaborasi dengan BKKBN melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) bagi keluarga berisiko stunting di Bangka Belitung.

Departement Head Corporate Communication PT TIMAH Tbk, Anggi Siahaan, menegaskan bahwa Program Kemunting dirancang sebagai investasi sosial jangka panjang.

“Kemunting merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung program pemerintah untuk menurunkan stunting. Fokus kami bukan hanya pada bantuan sesaat, tetapi membangun ketahanan gizi keluarga agar manfaatnya berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BKKBN Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Fajar Sentosa, menyampaikan apresiasi atas kontribusi PT TIMAH Tbk. Ia menilai kolaborasi dengan dunia usaha sangat penting untuk mempercepat penurunan stunting di daerah.

“Meski angka stunting di Bangka Belitung menunjukkan penurunan, dukungan dari berbagai pihak tetap diperlukan. Peran perusahaan melalui program TJSL sangat membantu, termasuk dalam upaya peningkatan sanitasi dan kualitas hidup masyarakat,” katanya.

Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis edukasi, PT TIMAH Tbk optimistis Program Kemunting dapat memberikan dampak nyata dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, sekaligus memperkuat kontribusi sektor industri terhadap pembangunan manusia yang berkelanjutan. (*)

Mimpi Lada Putih Babel Masuk Pasar Ekspor

BERITABANGKA.COM – Lada putih Bangka Belitung atau “Muntok White Pepper” terus diperkuat posisinya sebagai komoditas ekspor andalan nasional dan menjadi mimpi petani Bangka Belitung.

Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Bangka Belitung (Karantina Babel) mengintensifkan penguatan hilirisasi dan sistem ketertelusuran guna memastikan produk memenuhi standar kesehatan, keamanan, dan mutu pangan global.

Kepala Karantina Babel Herwintarti menegaskan bahwa ketertelusuran tidak hanya berbicara persyaratan teknis ekspor saja, tetapi fondasi utama dalam membangun kepercayaan pasar internasional.

Menurutnya seperti dikutip Beritabangka.com, konsistensi mutu dan kejelasan asal produk menjadi faktor penentu diterimanya lada putih Bangka Belitung di pasar global.

“Ketertelusuran komoditas merupakan instrumen strategis untuk mendukung hilirisasi, meningkatkan kepercayaan buyer internasional, serta memperkuat daya saing Muntok White Pepper sebagai produk unggulan. Ini selaras dengan arah kebijakan nasional dalam program Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto,” kata Herwintarti.

Berdasarkan catatan sistem Best Trust milik Barantin, kinerja ekspor lada putih Bangka Belitung sepanjang tahun kemarin 2025 masih menunjukkan tren positif.

Total volume ekspor tercatat mencapai 1,37 ribu ton melalui 184 kali pengapalan, dengan nilai ekonomi sekitar Rp180 miliar.

Selain pasar ekspor menurutnya, pergerakan lada putih untuk kebutuhan domestik antarwilayah juga terbilang signifikan.

Sepanjang 2025, pengiriman ke luar daerah dalam negeri mencapai 6,32 ribu ton dengan frekuensi 308 kali pengiriman, serta nilai transaksi sebesar Rp535,89 miliar.

Sementara itu, negara tujuan utama ekspor meliputi Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.

Herwintarti menjelaskan, Karantina Babel secara aktif mengimplementasikan Program Go Ekspor sebagai strategi mendorong pelaku usaha lada putih agar mampu bersaing secara berkelanjutan di pasar global.

Program ini menyasar penguatan kesiapan ekspor dari hulu ke hilir, termasuk pendampingan teknis, pengawasan karantina, serta pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari (SPS).

“Setiap tahapan produksi kami pastikan memiliki ketertelusuran yang jelas, mulai dari sumber bahan baku di kebun, proses pascapanen, hingga pengiriman. Dengan pengawasan karantina yang optimal, mutu produk tetap terjaga dan bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina,” ujarnya.

Tak hanya pengawasan, Karantina Babel juga berperan aktif memberikan asistensi kepada pelaku usaha terkait pemenuhan standar keamanan pangan dan regulasi ekspor.

Pembaruan informasi mengenai kebijakan dan persyaratan negara tujuan disampaikan secara berkala agar pelaku usaha dapat menyesuaikan diri sejak awal.

Melalui penguatan sinergi lintas sektor dan optimalisasi peran karantina dalam Program Go Ekspor, lada putih Bangka Belitung diharapkan mampu mempertahankan pasar yang telah ada sekaligus membuka peluang ekspansi ke negara tujuan baru.

Upaya ini diyakini olehnya tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan petani serta penguatan ekonomi daerah dan nasional. (*)

Gubernur Babel Laporkan Soehadi Hasan, Bantah Fitnah KUR Rp 500 Miliar

PANGKALPINANG – Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, resmi melaporkan seorang warga Belitung terkait dugaan fitnah yang menyeret namanya dalam isu korupsi pencairan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ratusan miliar rupiah. Laporan tersebut ditujukan kepada Soehadi Hasan, Ketua Komite untuk Belitong Masa Depan, yang sebelumnya menuduh Gubernur terlibat dalam pencairan KUR Bank Sumsel Babel senilai Rp 500 miliar.

Dalam keterangannya, Gubernur Hidayat akrab disapa Panglima menyebut tuduhan tersebut tidak berdasar dan tidak memiliki pijakan data maupun fakta. Ia menilai pernyataan Soehadi Hasan telah merugikan nama baik dirinya beserta keluarga.

“Kalau saya tidak melaporkan, takutnya masyarakat menganggap itu benar. Maka saya perlu membuat pembenaran dengan membuka laporan ini,” ujar Hidayat Arsani.

Gubernur juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengenal Soehadi Hasan secara pribadi, sehingga tuduhan tersebut dinilai muncul tanpa dasar yang jelas. Ia menilai tindakan ini penting dilakukan agar publik tidak tersesat oleh informasi yang tidak terverifikasi.

Lebih jauh, Hidayat menyatakan kesiapannya untuk menanggalkan jabatannya jika kelak terbukti bersalah. “Apabila saya terbukti melakukan hal tercela itu, saya siap mengundurkan diri sebagai Gubernur Bangka Belitung,” tegasnya.

Laporan resmi Gubernur ini diperkirakan akan menjadi proses hukum yang mendapat sorotan publik, mengingat besarnya nilai dana yang dituduhkan serta posisi Soehadi Hasan sebagai figur publik di Belitung. Aparat penegak hukum kini diharapkan segera menindaklanjuti laporan tersebut untuk memastikan kejelasan informasi dan meredam potensi bias di masyarakat.

Perkembangan kasus ini akan menjadi perhatian penting di Bangka Belitung, terutama terkait akuntabilitas pejabat publik dan penanganan isu fitnah di ruang digital maupun sosial. (*)