Herman mengatakan, penghasilan pada kondisi normal bisa mendapatkan 150 ribu rupiah untuk sekali antar sekitar 15-20 ribu rupiah. Sekarang minim tidak ada penumpang.
“Tidak ada sama sekali, ini aja untung ada mobil jazz ngasih sembako. Pemerintah nyuruh di rumah, kalau kami di rumah tidak makan mending nyarik duit ini setidaknya ada rejeki kayak ini dikasih orang meski sepi,” ucapnya.
Dilanjutkannya, diusia yang sudah menginjak masa tua, ia mengaku untuk menghidupi istri dan 3 anaknya sekarang dengan mengutang sembako seperti beras di toko dekat rumah.
“Tidak ada duitlah, berutanglah di warung, berutang warung dekat rumah, ini dari pagi belum dapat satupun sudah dari Minggu sampai ini” ujarnya.
Herman menyebutkan mau mengikuti himbauan Pemerintah untuk tetap di rumah atau tidak keluar rumah bekerja asalkan pemerintah daerah mau menjamin kebutuhan hidupnya.
“Kami takut kelaparan kalau penyakit itu dari Tuhan kalau dibilang takut ya takut tapi kami lebih takut kelaparan jadi keluar lah nyarik rezeki kalau kami ini buruh harian,” cetusnya.
“Yang saya sampaikan agar pemerintah cobalah memikirkan kami-kami ini, kami kerja susah disuruh di rumah, gak kerja kelaparan pemerintah pikir lah kami,” harap Herman.










